Emak, Durhaka kah Aku, telah banyak berbuat Salah Padamu, dan belum membalas segala Kebaikan

Emak, Durhaka kah Aku, telah banyak berbuat Salah Padamu, dan belum membalas segala Kebaikan

EMAK,, durhaka kah aku…ย ๐Ÿ˜”๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ’–

Sudah 2 tahun ini emak ikut tinggal di rumahku, emak yang sudah sepuh dan berusia lebih dari 60 tahun. Dulu emak tinggal berdua dengan bapak di desa, tapi semenjak bapak pergi mendahului emak, aku gak tega meninggalkannya sendirian, kuajak emak ke rumahku di kota.

Awalnya Bang Popon, abang tertuaku sempat mengajak emak tinggal bersamanya tapi gak lama karena istrinya keberatan dengan sikap emak yang makin hari makin rewel dan banyak maunya.

“Kakakmu kadang sudah nahan hati dengan kelakuan emak, Dek, cerewetnya minta ampun,” keluh bang Popon ketika mengantar emak ke rumahku.

Semakin senja tingkah emak seolah melampiaskan rasa ketika muda dulu. Emak dahulu terlalu penurut pada bapak dan gak pernah ada maunya, sekarang ketika tua rasa yang dahulu ia tahan dengan mudah ia ungkapkan.

“Nasi goreng pakai bumbu instan kayak gini gak enak.”

“Pakaian jangan di-laundry, gak bersih, enak nyuci sendiri.”

“Anakmu itu jajan terus, gak sehat entar batuk.”

“Untuk apa beli hiasan dinding, buang-buang uang.”

“Kalau hari Minggu jangan kesiangan, jangan pemalas.”

Setiap hari, selalu saja omelan emak mewarnai hari-hariku. Ketiga anakku kadang kena sasaran ocehan emak, ada-ada saja yang salah di matanya.

“Dengarkan saja, Dek, gak usah diladeni, wajar orang tua,” nasehat suamiku ketika aku mengeluhkan sikap emak yang kadang menjengkelkan.

“Kadang aku emosi juga, Bang, kalau lama-lama kayak gini.”

Suamiku tersenyum dan mencubit pipiku. “Alhamdulillah kita masih diberi nikmat merawat orang tua, jangan sampai kelak kita menyesal ketika dia sudah tiada.”

Aku bergeming, benar juga.

Pages ( 1 of 3 ): 1 23Next ยป

Berikan Ulasan Di sini