Emak, Durhaka kah Aku, telah banyak berbuat Salah Padamu, dan belum membalas segala Kebaikan

Emak, Durhaka kah Aku, telah banyak berbuat Salah Padamu, dan belum membalas segala Kebaikan

Hari Senin pagi, suamiku masih dinas di luar kota, kebetulan Bi Minah yang bantu di rumah terlambat datang. Anak-anak rewel, mandi pun harus ribut, sarapan mesti berantem dan pakai seragam lambatnya setengah mati.

“Ayo, Nak, buruan entar mama terlambat,” ucapku gusar. Jam 8 pagi ini ada rapat di kantor.

Semalam aku gak enak badan, batuk dan pilek mungkin kecapekan karena sudah 3 hari bergadang mengerjakan laporan.

“Nak, cangkul kita dimana ya?” tanya emak ketika aku sedang memakaikan sepatu si bungsu.

“Gak tahu, Mak, tanya Bi Minah saja di belakang,” jawabku. Ada-ada saja emak ini, dikala orang sibuk pagi-pagi dia sibuk nanyain cangkul.

“Kata Bi Minah dia gak tahu,” ucap emak lagi.

“Cari di belakang, Mak,” jawabku kesal. Apa mendesaknya coba mencari cangkul di jam genting seperti ini.

“Aisyah ayo nak buruan.” Aku memanggil putriku yang dari tadi tak keluar kamar. Waktu semakin bergerak meninggalkan angka 7, aku semakin gelisah.

BACA JUGA:   How to make your wife orgasme

“Bentar, Ma, masih nyari buku PR semalam, gak ketemu,” jawab Aisyah.

“Mama tunggu 5 menit, adikmu sudah di mobil semua. Kalau kamu belum keluar kami tinggal.”

“Nak, kamu cari dulu cangkul, toh kamu belum pergi,” ucap emak gusar.

Aku bergeming, malas menanggapi emak.

“Nak, ingat-ingat dulu dimana kamu naruh cangkulnya.” Emak mendesak, raut wajahnya pun terlihat kesal.

Aisyah putriku berlari keluar rumah, ia segera masuk ke mobil.

“Aku dan anak-anak berangkat ya, Mak.” Aku mengambil punggung tangan emak dan menciumnya cepat.

Emak menarik lenganku, “cari dulu cangkulnya,” ucap emak.

“Entar sore ya, Mak. ” Aku tersenyum, berusaha sabar.

“Emak mau sekarang!” Emak membentak.

“Mak, aku ini sudah terlambat, hari ini ada rapat, kalau persentasiku gagal bisa gawat. Emak jangan buat masalah dong, untuk apa coba nanya cangkul sekarang? Wajar saja kalau istri Bang Popon gak betah sama emak kalau rewel kayak gini, pagi-pagi cangkul,,,cangkul !!” Aku beranjak meninggalkan emak, masuk mobil dan membanting pintunya. Kesal.

BACA JUGA:   Cara Mengubah Resolusi Video di Adobe Premiere

Sekilas kulihat emak terdiam dengan mata yang berkaca.

Jantungku berdetak cepat seolah ada yang mengejar, napasku terasa sesak dan kedua mataku memanas. Baru kali ini aku membentak emak, sebelumnya aku berhasil menahan diri dari kerewelan emak namun kesabaran kali ini sungguh teruji. Meledak sudah amarah ini.

“Mama jangan kasar gitu dong sama nenek,” ucap Aisyah putriku.

Aku diam.

“Biasanya kan mama sabar,” Yusuf putra keduaku menimpali.

“Nenek bilang dulu waktu kecil mama orangnya rewel, kalau nanya gak bisa stop, tapi nenek suka. Itu artinya mama pintar kata nenek. Terus mama juga orangnya kalau ada mau gak bisa ditunda dan nenek bilang itu bagus artinya mama orangnya gigih.” Aisyah berkata pelan.

Aku bergeming kehilangan kata-kata. Anakku benar, bukankah sifat emak dan aku kini sama? Kami sama-sama rewel, banyak maunya, selalu gigih bila ada keinginan tapi hanya ada satu yang membedakan. Emak menganggap sikapku ini sebagai sebuah anugrah dan dengan senang hati menerimanya, tapi aku? Dengan mudah aku menganggap emak sebagai beban.

BACA JUGA:   Jasa Install Laptop Komputer Notebook Padang

Tak ada pembicaraan lagi di mobil hingga ketiga anakku turun dan masuk ke gerbang sekolah, ketiganya melambaikan tangan dengan mata yang juga berkaca. Emak yang bagiku rewel itu adalah kesayangan bagi putra putriku.

Aku menepuk setir mobil berkali-kali, sepuluh menit lagi pukul delapan, bila memacu kendaraan dengan cepat maka aku masih bisa ke kantor tepat waktu. Tapi ada yang mengganjal di hati, sebuah rasa berjudul penyesalan.

Baru 2 tahun emak di rumah, emak pun tak sakit-sakitan, masih bisa makan, minum dan membersihkan diri sendiri, hanya sedikit rewel saja. Tapi aku, anak yang telah 9 bulan dikandungnya, 2 tahun disusui, belasan tahun dirawat dan disekolahkan hingga akhirnya menikah pun masih tetap menyusahkannya. Begitu mudah aku menganggap emak sebagai beban.

Tubuhku bergetar dengan napas yang tersendat, tumpah sudah air mata ini. Emak.

Pages ( 2 of 3 ): « Back1 2 3Next »

Berikan Komentar Terbaik Anda Di sini

error

Share & Bagikan ...