Emak, Durhaka kah Aku, telah banyak berbuat Salah Padamu, dan belum membalas segala Kebaikan

Emak, Durhaka kah Aku, telah banyak berbuat Salah Padamu, dan belum membalas segala Kebaikan

Aku segera memarkirkan mobil di garasi dan berlari ke kamar emak. Persetan dengan rapat dan persentasi, aku harus segera memohon maaf emak. Paling-paling pekerjaanku akan diambil alih oleh teman kantor dan tahun ini gak dapat bonus. Itu gak penting, hati emak lebih berharga dari apapun, tak kan kubiarkan retak dan hancur.

Kedua mataku menyisir kamar emak yang kosong. Kemana emak? Aku berlari ke dapur.

“Mana emak, Bi ?” tanyaku pada Bi Minah yang sedang mencuci piring.

“Di halaman belakang, Bu, tapi kayaknya dari tadi emak ngucek-ngucek mata terus gak tau kenapa..” kata Bi Minah.

Aku mulai resah.

Segera aku ke halaman belakang rumah dimana banyak tanaman emak tumbuh subur. Emak sedang menggali sesuatu dengan pisau kecil ketika aku menghampirinya.

BACA JUGA:   Miris, Anak Usir Ibu Kandung Demi Membela Istri yang Berbohong

“Lagi apa, Mak?” tanyaku.

Emak menoleh dan tersenyum. “Gak ngantor?”

Aku menggeleng, “gak enak badan,” bohongku.

“Emak tadi mau minta cangkul buru-buru karena mau gali jahe merah ini. Semalam emak dengar kamu batuk gak berhenti jadi emak mau buat wedang jahe biar bisa kamu minum sebelum berangkat kerja makanya tadi emak buru-buru.” Emak masih menggali tanah dengan pisau kecil.

Aku bergeming.

“Mak gak berani pakai pisau dapur kamu, kan pisau mahal nanti rusak kalau kena tanah makanya tadi cari cangkul.”

Kenapa tak ambil saja pisau dapur itu maaak,,, aku membathin. Dadaku kian sesak.

“Untung ketemu pisau kecil ini, peninggalan bapakmu dulu disini, walau sudah karatan tapi masih bisa dipakai pelan-pelan, ini emak sudah dapat banyak jahenya.” Emak menunjukkan lima ruas jahe merah di telapak tangannya. Ia beranjak dan tersenyum. “Kamu istirahatlah, nanti wedang jahenya emak antar ke kamarmu ”

BACA JUGA:   Miris, Anak Usir Ibu Kandung Demi Membela Istri yang Berbohong

Ya Allah, ya Allah, berkali aku menyebut nama-Nya. Duhai hati alangkah mudah syetan merasuki diri, betapa rapuh pertahanan diri, durahakalah aku yang telah melukai hati wanita baik ini.

Aku segera berlari dan memeluk tubuh kurus itu dari belakang… “Maafkan aku, Mak, maafkan aku,,, aku salah sudah membentak emak. ”

Emak berbalik dan memegang pundakku sambil tersenyum. “Gak apa.” Emak kembali memelukku dan menepuk pundakku pelan. “Istirahat lah, kamu lelah,” bisik emak.

T A M A T

“Setiap orang tua akan sangat bahagia menghabiskan waktu merawat anaknya namun sebaliknya tak semua anak memiliki ketulusan dalam merawat orang tuanya walau hanya hitungan tahun.”

Facebook Comments
Pages ( 3 of 3 ): « Back12 3

Berikan Ulasan Di sini