7 Dosa Kesalahan Penting diperhatikan Cameramen dalam Pengambilan Gambar atau Shooting Video

Hampir Setiap orang suka hiburan, suka menonton, baik itu film, drama komedi atau nyanyian lagu.

Tapi, terpikirkah oleh mereka bagaimana orang-orang yang di belakang layar ini bekerja keras mati-matian, untuk membuat memproduksi dan menghasilkan gambar yang berkualitas dan tidak asal-asalan, dari tontonannya itu?

Coba rekam shooting dan buat sendiri, bagaimana hasilnya …. tentu tidak sebagus seperti yang ditonton? setidaknya mendekati pun … tidak mampu. Terlalu jauh. Terlalu susah. Begitulah kenyataannya! Proses membuatnya tidak semudah seindah/sebagus seperti gambar yang ditonton.

Semakin bagus, semakin susah pengambilannya, semakin mahal kameranya, semakin mahal biaya/upahnya …. seharusnya begitu, tapi kadang tak begitu. Seringkali permintaan Ekspektasinya tinggi seperti film layar lebar, tapi anggaran badgetnya Smatphone, bahkan tak cukup untuk beli HP.

Di dalam proses video production yang paling sederhana minimal ada 2 orang atau 2 peranan yang berfungsi:

  1. Kamerawan. Cameramen atau Cameragirl yang jelas tukang shooting, mau laki-laki atau perempuan.
  2. Editor,  yang mengolah hasil editing. Sehingga hasil shootingan siap ditonton pemirsa. 

Seringkali orang salah kaprah dalam menilai hasil gambar. Kadang itu terjadi pada golongan setengah nanggung. Yang shooting aja asal-asalan, “kan nanti diedit”, “nanti dipotong atau dibuang kan?” dan banyak lagi cara pandang yang salah, salah dalam memandang dunia videografi ini.

Kameramen Pro aja harus ada jeda dan goyang beberapa saat sewaktu pengambilan gambar atau shooting, itulah makanya perlu lebih dari 1 kamera. Walaupun angelnya hebat-hebat tetap perlu teamwork/cameramen jeda lainnya. Kecuali bukan siaran live boleh lah cut to cut pengambilan gambarnya.
Nah di sini, kadang kameramen yang baru pemula atau amatir belum banyak pengalaman dan belum terlatih sering melakukan kesalahan. Padahal kesalahan itu dianggap Pantang atau ‘DOSA’ dalam tanda kutip bagi seorang kamerawan.

Inilah 7 Hal Penting untuk Pengambilan Gambar atau Video Shooting (Cameramen)

1. Gambar Goyang (Shaking)

Gambar yang goyang umumnya tidak diinginkan semua pihak, kecuali ada tujuan tertentu. Karena selain tenak ditonton juga bisa memusingkan
pemirsa.

Gambar semacam ini dihasilkan dari shooting video tanpa
pegangan tangan (hand held) pada kamera (grip) yang salah, tidak menggunakan tripod, steadycam dan belum terlatihnya cameramen. Pengaturan nafas juga sangat berpengaruh terhadap goyangnya shooting pengambilan gambar video.

BACA JUGA:   Keliling Istana Bogor Bawa Wisatawan, Kuda Delman Mendadak Mati

Solusi nya adalah : gunakan tripod atau tripot yang kokoh
saat shooting video. Pelajari cara penyetelan tripod termasuk rodanya bila perlu. Agar Anda tetap bisa bergerak dinamis mengikuti keperluan
pengambilan gambar, namun stelan kamera tetap dan gambar stabil dan steady.

Jika Anda memegang kamera dengan tangan maka ikuti
tips berikut ini:

  • Sandarkan tubuh pada sesuatu yang kokoh, rapatkan
    pegangan kamera ketubuh lalu atur nafas dengan baik, lebih baik lagi
    jika menyandarkan kamera pada sesuatu yang kokoh misalnya meja pohon tiang yang kokoh.
  • Gunakan View Finder sebagai titik penye-tabil gambar. Beda antara shootingan tangan dengan viewfinder dengan yang tanpa menggunakan.

Cari jasa Video Shooting, Video Editing di Padang?

Call/WA: 0811-661-160 Minda Art Production.

2. Terlalu banyak Zoom

Hal lain yang menyebabkan gambar kurang bagus adalah terlalu banyaknya Zoom. Gambar zoom tidak baik karena detil obyek sulit tertangkap.

Fokus  pada satu objek
menjadi sulit disesuaikan (entah manual atau auto fokus) dan gambar
menjadi mudah goyang. Padahal sebaliknya, gambar close-up yang diambil
dari dekat akan memiliki daya tarik yang kuat pada shooting video yang
dihasilkan.

Kebanyakan cameramen amateur menggunakan fasilitas zoom
karena alasan berikut:

  • senang memainkan fitur unik ini, 
  • ketinggalan
    obyek, yaitu obyek shooting yang dianggap penting berada jauh dari
    posisi kameramen, 
  • malu atau malas mendekati obyek, misalnya ada wanita
    cantik peserta acara yang bagus untuk di-shooting namun kameramen merasa
    malu untuk mengambil shooting dari dekat untuk mengambil gambar
    close-up
  • berdalih mengambil candid camera.

Solusinya: Kalau mau menzoom, zoomlah terlebih dahulu objeck, (baik zoom-in atau zoom out) baru record.

Sebaiknya pikir-pikirlah dengan
matang-matang obyek yang mau di-shoot (sekali lagi, idealnya telah
dirumuskan dalam suatu skenario) walaupun hanya dalam peliputan suatu acara, mintalah
lebih dulu jadwal acara lantas dipelajari, sambil terus berkonsultasi
dengan panitia acara,

BACA JUGA:   SERING DI EJEK TEMAN KARENA TINGGAL DI BEKAS KANDANG

Harus terus melatih kepercayaan diri dan membuang rasa malu, kalah sama anak gadis abg, yang sudah hilang malunya.

Untuk biasa tampil
hilir mudik di muka umum, demi mendapatkan angle yang baik, Berjalanlah dengan sopan dan tidak angkuh. Untuk banyakan kasus, dapat dipikirkan alternatif yang lebih baik daripada
mendapatkan gambar candid camera yang buruk karena diambil secara zoom.

3. Terlalu banyak Pan/Panning

Pan ialah pergerakan kamera horisontal ke kiri atau ke kanan yang
dilakukan seorang kameramen ketika hendak mengambil gambar keadaan
sekeliling. Berbeda dengan pan lembut yang dapat menambah dinamis
gambar, pan yang cepat akan memusingkan pemirsa, juga gambar yang
dihasilkan kurang tajam (karena kamera bingung dengan penyesuaian
fokus).

Kameramen amatir sering menggunakan pan yang
berlebihan karena : ingin menyampaikan selengkap mungkin informasi
melalui gambarnya, tanpa didahului perencanaan pengambilan gambar, tapi
ia justru bingung gambar apa yang hendak diambil dengan kamera videonya.
Solusi nya iyalah : biasakan menulis rencana shooting sambil memaknai
apa yang hendak disampaikan dengan obyek/kegiatan yang akan di-shooting
tersebut. sesuai dengan rencana shooting, persiapkan diri dengan baik
untuk bertugas di tempat shooting, jika mungkin pelajari lebih dulu
angle-angle yang baik dan mungkin untuk di ambil.

4. Gambar tidak Fokus (blur)

Kameramen amatir diasumsikan menggunakan kamera dengan setting auto
fokus, namun seringkali ada saat-saat hasil shooting video gagal fokus.

Ini sering disebabkan pergerakan kamera (pan) yang terlalu cepat,
padahal fitur auto fokus kamera kadang membutuhkan waktu se per sekian
detik untuk mengenali focus obyek.

Panning-lah dengan pantas dan elegan!

Sebab lainnya yaitu jarak pengambilan
gambar yang jauh (long shot) sehingga banyak obyek yang ada di frame
yang berada pada jarak yang berbeda-beda sehingga kamera kesulitan
menentukan fokus. Solusi nya adalah : kurangi pan, biasakan untuk
mendekati obyek sebelum mengambil gambarnya, sehingga bisa mendapatkan
gambar close-up atau setidaknya medium-shot, yang dapat menghasilkan
detil obyek yang lebih baik.

5. Lighting Salah Pencahayaan

Kemampuan
seorang kameramen menggunakan cahaya baik alam maupun buatan akan
merupakan penentu keunggulannya.

BACA JUGA:   Tak Punya HP Buat Belajar Online, Anak Yatim di Rumpin Ini Ingin Jual Ayam Kesayangannya

Kameramen amatir (dengan asumsi
menggunakan kamera video auto) biasanya sering salah pada backlight,
yaitu pengambilan gambar pada angle yang melawan sumber cahaya, kontras
terlalu tinggi, misalnya di ruang terbuka mengambil gambar orang yang
berkulit gelap dengan background langit putih.

Solusi nya iyalah : jika
backlight tak terhindarkan (tak ada pilihan angle yang lain) maka :

  • jangan
    lupa untuk meng’aktifkan fitur backlight pada kamera video jika ada, 
  • pengambilan
    angle yang dekat (medium-shoot, close-up bahkan extreme close-up) dapat
    mengurangi kontras warna yang tertangkan oleh lensa kamera video.
  • Pasang lighting yang kuat untuk melawan pencahayaan.

6. Framing (law of Third)

Seringkali kameramen amatir selalu menempatkan obyeknya di tengah frame
kamera. Padahal idealnya, framing ini mengikuti Kaidah Sepertiga Rules
of Third
sebagaimana yang juga dikenal dalam dunia fotografi, kaidah ini
menyebutkan bahwa jika layar kamera dibagi tiga (baik secara vertikal
maupun horisontal), maka obyek harus berada di garis-garis pertemuannya
(jadi bukan di tengah, tapi menyamping), jika demikian maka ada ruang
obyek dan ruang kosong, ruang kosong ini bisa diisi dengan background
penunjang yang menarik.

Untuk framing adegan wawancara atau pun monolog
dimana pada layar tampil seorang yang berbicara di depan kamera serong
ke samping, maka arah serong-nya ialah menghadap ke bidang kosong
tersebut.

7. Sudut Pengambilan Gambar (Angle)

Cameramen amateur juga sering mengambil gambar terlalu jauh, yaitu Medium
Shot (MS) atau bahkan Long Shot (LS), padahal pada angle kamera ini
detil obyek tidak tertangkap jelas.

Pada sejumlah produk home video
seperti wedding video, video liputan acara, video ulang tahun dan
lain-lain, potensi daya tarik terbesar ialah emosi/ekspresi manusia yang
terpancar dari wajah-wajah para pelaku peristiwa, karena itu disarankan
untuk banyak melakukan eksperimen soal angle kamera, terutama
memberanikan diri untuk mengambil angle Close Up dan Extreme Close Up.

Begitulah kira-kira 7 Hal Penting yang perlu diperhatikan oleh Cameramen terutamanya pemula. Bahkan ini menjadi ‘dosa’ utama bagi kuli potret dan kuli nginceng!

Berikan Ulasan Di sini