MindaFilm.com

Best Thriller Movies

Cara Menyusun Pembukuan Keuangan Rugi Laba Studio Fotographer Video Shooting

6 min read
Sudah beberapa berapa lama anda membuka usaha studio foto, cetak foto, video shooting atau editing? Sudahkah anda dapat mengukur sejauhmana kemajuan usaha anda itu? Adakah pencatatan harian pemasukan dan pengaluarannya? Dapatkan anda mengetahui jumlah real keuntungan atau kerugian (rugi laba) usaha studio foto dan video shooting tahun kemaren?

Seringkali orang bertanya mengenai cara menyusun laporan keuangan
studio foto. Apakah anda juga punya pertanyaan sama? Kalo iya, mari kita lanjutkan dengan pertanyaan lain, apakah anda juga
sudah tahu artinya Laporan Keuangan?

Baiknya sebelum saya memulai, perlu di pastikan bahwa kita punya
pengertian yang sama tentang laporan keuangan. Maklum jaman sekarang
definisi Laporan Keuangan bisa cari di google, atau kalo males
ngetiknya, ya tinggal KLIK AJA DISINI.

Peluang Usaha Foto Studio & Video Shooting & Kendala yang Sering Dihadapi

Jadi jelas kalo laporan keuangan dasar adalah Neraca dan Laba Rugi ,
tapi kalo akuntan akan bilang bahwa ada satu lagi yang namanya Cash Flow
Statement, atau laporan arus kas. Jadi setelah jelas apa itu laporan
keuangan, disini saya akan coba jelaskan tentang cara penyusunan
sebagian dari laporan keuangan, yakni Laporan Laba Rugi.
Langkah-langkah penyusunan laporan laba rugi ini saya coba sajikan
secara sederhana dengan bahasa non akuntan, jadi mohon maaf kalo ada
istilah yang kurang berkenan, mudah-mudahan bisa diluruskan jika perlu.

Langkah penyusunan laporan laba rugi ;

  • Buat kelompok akun laba rugi (akun riil) yang terdiri dari ;
    • Pendapatan
      Ini merupakan akun untuk menampung semua jenis pendapatan yang diterima
      dari pelanggan, mulai dari hasil penjualan jasa fotografi prewed, foto
      wedding, foto studio, cetak album dan sebagainya. Untuk detilnya
      sendiri terserah masing-masing orang, yang penting pengelompokkan
      tersebut dapat di perbandingkan dengan biaya langsung yang terkait.
      Dengan cara ini, maka setiap aktivitas produksi dapat di lihat secara
      individual kontribusinya terhadap keuntungan yang di hasilkan.

    • Biaya Operasional Langsung
      Rincian biaya di sini harus memperhatikan kelompok rincian pendapatan,
      artinya jika di kelompok pendapatan ada 3 jenis, maka disini juga dibuat
      3 jenis, sehingga bisa di cari keterkaitan antara pendapatan dan
      biayanya. Tujuan dari pengelompokan ini adalah untuk mengukur besarnya
      kontribusi masing-masing jenis pendapatan terhadap keuntungan yang
      diperoleh. Untuk jasa fotografi yang bersifat “proyek” coba buatkan
      tabulasi terpisah, untuk mencatat setiap pendapatan dan biayanya,
      sehingga laba rugi operasional per proyek bisa dihitung lebih akurat,
      sebelum dimasukan dalam laporan rugilaga keseluruhan.

    • Biaya Umum dan Administrasi
      Masuk dalam kelompok biaya umum dan adminstrasi adalah semua jenis biaya
      tidak langsung, yang menjadi pengeluaran rutin baik secara harian,
      mingguan atau bulanan sepanjang biaya tersebut memang bersifat umum,
      karena memberikan kontribusi tidak lansung kepada aktivitas produksi.
      Untuk biaya pemasaran dan promosi, sebenarnya ada dua pendapat, ada yang
      mengelompokkan dalam jenis biaya terpisah, ada yang mengelompokkan
      kedalam biaya Umum dan Administrasi. Namun untuk contoh ini, saya
      kelompokan dalam biaya Umum dan Administrasi, biar mudah, karena memang
      jenis biaya ini masuk kategori tidak langsung.

    • Biaya Penyusutan dan Amortisasi
      Untuk biaya jenis ini, dimaksudkan agar pembebanan biaya bisa
      didistribusikan ke periode lain dimana manfaat atas pengeluaran atau
      pembelian aktiva tersebut masih dinikmati. Contohnya ; saat kita beli
      kamera, tentu saja dipake selama periode dimana umur aktiva tersebut
      secara ekonomis masih wajar. Misalnya 4 tahun, maka setiap bulan dapat
      dihitung dengan formula sebagai berikut:

      P = (Bi – S)/U

      P = Biaya Penyusutan per bulan
      Bi = Harga Beli Komputer
      S = Nilai Sisa
      U = umur manfaat (4 tahun x 12 bulan = 48bulan)

      Dimana nilai sisa merupakah perkiraan hasil penjualan perangkat computer tersebut saat umur ekonomisnya berakhir.

      Sedangkan contoh amortisasi adalah Biaya sewa tempat yang dibayar untuk 4
      tahun kedepan, atau 2 tahun kedepan, atau bahkan 6 bulan ke depan. Nah
      bagaimanapun lamanya masa sewa, kita akan sesuaikan besaranya dengan
      rumus sbb;

      As = Wa / M

      As = Biaya Amortisasi Sewa/bln
      Wa = Biaya Sewa yang dibayarkan sekaligus dimuka
      M = Masa sewa dalam satuan bulan, misalnya 2 tahun maka M = 24

      Sedangkan untuk biaya yang sifatnya memberikan manfaat jangka panjang,
      atau lebih dari satu periode operasi normal (paling sedikit satu
      tahun/12 bulan) maka bisa di kapitalisasikan dengan mendistribusikan
      bebanya kedalam periode dimana manfaatnya diharapkan masih bisa
      dinikmati. Contohnya adalah saat kita merenovasi studio saat akan di
      dirikan, yang bisa dihitung mulai dari biaya renovasi studio, instalasi
      listrik, instalasi AC dsb. Nah biaya-biaya ini masuk dalam kategori,
      biaya yang boleh di amortisasi karena di tujukan untuk kepentingan
      jangka panjang, yakni selama masa sewa, atau sampai masa dimana
      diperlukan lagi biaya renovasi yang relative besar. Contoh
      perhitungannya sebagai berikut;

      Ab = R/Um

      Ab = Amortisasi Biaya Renovasi/bln
      R = Biaya Renovasi yang dikeluarkan
      Um = Umur manfaat yg diharapkan

    • Selanjutnya masing-masing akun tadi di pecah lagi sesuai dengan
      rincian jenis masing masing sumber atau asalnya transaksi, misalnya
      sebagai berikut;

      a. Pendapatan
      i. Pendapatan Studio
      ii. Pendapatan Proyek foto
      iii. Pendapatan Desain dan cetak album

      b. Biaya Operasional Langsung
      i. Biaya Sewa Studio
      ii. Biaya Pengerjaan Proyek foto
      iii. Biaya Desain dan cetak album

      c. Biaya Umum dan Administrasi
      i. Biaya Gaji Pegawai
      ii. Biaya Kebersihan dan Keamanan lingkungan
      iii. Biaya Pemeliharaan dan perbaikan
      iv. Biaya lain-lain

      d. Biaya Penyusutan
      i. Biaya Penyusutan Peralatan Fotografi
      ii. Biaya Amortisasi Sewa Tempat
      iii. Biaya Amortisasi ongkos renovasi

  • Pengelompokan tersebut tentu saja punya maksud dan agar setiap
    aktivitas produksi dapat di ukur kontribusinya terhadap keuntungan yang
    dihasilkan, sehingga masing-masing rinciannya perlu di sepakati di sini.
    Namun demikian mengingat masing-masing studio punya keterbatasan serta
    kondisi alamiah yang berbeda-beda, jadi bila perlu boleh saja rincian
    akunnya di rubah dan disesuaikan dengan kebutuhan, sepanjang
    pengelompokannya masih sesuai. Mudah bukan?

  • Langkah berikutnya adalah membuat buku kas , yakni buku yang
    digunakan untuk mencatat semua penerimaan dan pengeluaran harian. Ini
    adalah catatan sederhana yang nanti akan saya modifikasi supaya bisa
    jadi laporan laba rugi. Untuk memulainya, silahkan beli ukuran folio,
    dan buat kolom-kolom sesuai kebutuhan, nah disini saya sarankan untuk
    membuat kolom-kolom utama sebagai berikut;

    a. Nomor Urut transaksi
    b. Tanggal transaksi
    c. Keterangan jenis transaksi
    d. Nomor Akun (untuk kepentingan pencatatan akuntansi)
    e. Jumlah Rupiah transaksi
    f. Saldo

    Kolom-kolom tersebut nanti saya berikan contohnya dalam bentuk excel dan bisa di download pada link KLIK DISINI

  • Langkah terakhir adalah menyusun laporan laba rugi berdasarkan
    buku kas yang sudah dibuat, dimana setiap transaksi yang sudah diberi
    nomor akun, di kelompokkan sesuai dengan kelompok yang tepat, dan
    selanjutnya … whoala… jadilah laporan laba rugi, dimana
    masing-masing aktivitas produksi bisa di tampilkan kinerjanya, serta
    berapa besar uang kas yang masuk, dan keuntungan bersih yang diterima
    oleh pengusaha studio.

    Sampai disini masih bingung?
    Jangan kuatir, karena saya akan terus berusaha menjelaskan kepada anda….

    Saat pengelompokan, perhatikan bahwa susunan laba rugi di buat secara rinci dengan detil sbb;

    a. Pendapatan Rp. (A)
    i. Pendapatan Studio Rp. XXXXXXX
    ii. Pendapatan Proyek foto Rp. XXXXXXX
    iii. Pdptn DesainCtk album Rp. XXXXXXX


    b. Biaya Operasional Langsung Rp. (B )
    i. Biaya Sewa Studio Rp. XXXXXXX
    ii. Biaya Pengrjaan Pryk Rp. XXXXXXX
    iii. Biaya DesnCtkAlbum Rp. XXXXXXX


    Margin Kontribusi Rp. (C)=(A)-(B )


    c. Biaya Umum & Administrasi Rp. (D)
    i. Biaya Gaji Pegawai Rp. XXXXXXX
    ii. Bi Kebrshn & Kmn Rp. XXXXXXX
    iii. Biaya Pmlhrn & pbaik Rp. XXXXXXX
    iv. Biaya lain-lain Rp. XXXXXXX


    Pendapatan kas Rp.(E) = (C)–(D)


    d. Biaya Penyusutan Rp. (F)
    i. Biaya Penyusutan Komputer Rp. XXXXXXX
    ii. Bi Amrtis Sewa Tmp Rp. XXXXXXX
    iii. Bi Amrtis renovasi Rp. XXXXXXX


    Laba / (rugi) hasil usaha Rp.(G)= (E) – (F)

Dengan format di atas, jelas bahwa posisi Pendapatan Kas harus
benar-benar dijaga. Artinya jika Pendapatan Kas hasilnya NEGATIF, maka
bisa dipastikan anda sebagai pemilik akan nombok biaya operasional, dan
sebaliknya jika POSITIF anda belum tentu memperoleh laba, namun anda
masih punya kemampuan daya hidup (survival) untuk bisa melanjutkan usaha
sampai mendapat keuntungan layak.

Jika Pendapatan Kas punya nilai POSITIF lebih besar dari Biaya
Penyusutan, maka bisa dipastikan anda mendapatkan keuntungan, namun jika
nilai POSITIFnya lebih kecil dari Biaya Penyusutan, maka bisa
dipastikan kemampuan anda mengembalikan modal, sangat lemah tapi tetap
survive untuk jangka waktu yang lebih panjang.

Nah… sekarang jelaas kan… bahwa ternyata menyusun Laporan Laba
Rugi Warnet itu mudah ya. Bagian yang paling sulit adalah membayar pajak
dan menyusun neraca… masih minat untuk belajar lebih lanjut?

Saat ini, lebih baik kita istirahatkan dulu otak kita supaya bisa lebih
tenang dan menyerap materi penjelasan di atas, dan jika perlu ….
Segera ulangi membaca artikel ini, paling sedikit 1 kali sehari…
tergantung kondisi pengetahuan yang di miliki. Jika kebingungan masih
berlanjut, hubungi akuntan terdekat…. Untuk konsultasi dan mendapat
bimbingan yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hayo Mau Ngopi ya?