10 Kesalahan Menerbangkan Drone dan Cara Menghindarinya


Banyak yang mengatakan bahwa melakukan kesalahan adalah guru terbaik
untuk belajar. Namun itu tidak bisa diberlakukan untuk drone. Sekali
anda melakukan kesalahan, bisa runyam drone anda.

Jadi sebaiknya pelajari dulu apa saja yang harus dilakukan dan dihindari sebelum anda mulai menerbangkan drone pertama.

Apa saja kesalahan yang kerap terjadi dan bagaimana menghindarinya?

1. Belajar menerbangkan pertama kali pakai drone mahal 

Tidak ada salahnya membeli drone mahal jika memang memiliki dana yang
cukup. Namun jika masih level beginner, apalagi baru pertama kali
nyemplung dunia drone, langsung memakai DJI Phantom 4 bukan keputusan
bijak. Karena anda pasti merasa sayang jika nantinya jatuh atau cedera
selama latihan.

Jika pertama kali mencoba belilah drone kecil dan paling penting anda
tidak khawatir atau sayang jika jatuh nantinya. Karena dapat dipastikan
anda bakal mengalami drone jatuh atau nabrak beberapa kali sebelum
mahir menerbangkannya.

Alasan penting lainnya adalah karena drone murah tidak memiliki mode terbang otomatis.

Lho, kok itu malah dianggap nilai plus?

Jika anda membeli DJI Mavic Pro maka tinggal tekan tombol maka drone
terbang dan mendarat dengan mudahnya. Namun itu akan membuat anda jadi
“manja”. Dengan mempelajari menerbangkan manual drone murah maka anda
“dipaksa” bisa mengatasi jika drone mahal anda mengalami kegagalan
sistem otomatisnya. Jangan terlalu mengandalkan teknologi instan jika
ingin mahir.

2. Pastikan perangkat drone terpasang kuat dan komplit

Meski terkesan sepele tapi anda harus cek dan ricek sebelum
menerbangkan drone. Tidak sedikit kasus karena sekrup kurang kencang
akhirnya copot saat penerbangan dan bisa berakibat fatal. Bukan hanya
drone jatuh tapi fatalnya orang lain bisa terkena juga.

Selain itu, disarankan juga mengganti baling-balingnya setiap 50 kali
penerbangan. Sepasang baling-baling jangan dipakai lebih dari 100 kali
penerbangan. Jika dipakai kurang dari 50 kali pun, juga tetap harus
diganti jika usianya sudah satu tahun.

3. Menerbangkan dalam kondisi lingkungan buruk

  • Jangan memaksakan diri untuk menerbangkan drone ketika kondisi
    sedang angin kencang atau hujan maupun berkabut. Bersabarlah menunggu
    cuaca cerah daripada drone anda terbawa angin.
  • Terbangkanlah drone di ruang terbuka. Pilihlah halaman belakang
    rumah atau lapangan terbuka dan lapangan parkir yang luas. Bangunan
    tinggi dan struktur besi akan mempengaruhi akurasi kompas di drone
    maupun sistem GPS-nya.
  • Sebelum memulai perhatikan dengan seksama di mana letak bangunan,
    pohon, tiang dan kabel listrik serta area dengan elektromagnetik tinggi.
    Perhatikan juga lalu lalang agar tidak ada orang yang kejatuhan drone.
  • Hindari juga area dekat Wi-Fi dan sinyal radio, tower BTS, medan
    magnet kuat serta listrik tegangan tinggi agar drone tidak kehilangan
    sinyal.
  • Jangan menerbangkan drone di atas danau atau area perairan, meski
    itu terkesan ide yang bagus, jika anda belum berpengalaman. Pasalnya,
    drone gak waterproof
  • Jika anda menerbangkan di area ada bangunan maka pastikan settingan
    RTH Altitude lebih tinggi dari bagunan tertinggi di sana. Pastikan juga
    baterainya cukup untuk penerbangan agar tidak jatuh di tengah
    perjalanan.

4. Pantau terus baterai saat menerbangkan

 Jangan sampai anda terlalu asyik menerbangkan
hingga kebablasan mendapat warning lowbat. Jika anda salah memperkirakan
jarak tempuh, siap-siap saja drone mati kehabisan daya dan jatuh entah
dimana.

Baterai drone akan memasuki zona critical low biasanya di
level 10% (default) namun bisa dinaikkan sesuai keinginan anda. Begitu
memasuki level tersebut, drone secara otomatis landing di lokasi saat itu berada.

Jadi saat sudah mendapat warning segera arahkan ke jalan pulang. Ingat, jangan melawan arah angin karena akan semakin menghabiskan lebih banyak energi lagi.

Perhatikan juga tekanan di ketinggian karena energi yang dikeluarkan
baterai bisa semakin besar. Baterai juga akan lebih cepat habis di cuaca
yang panas dibanding saat sejuk.

5. Jangan terbangkan terlalu tinggi dan terlalu jauh

 Sudah hal lumrah jika anda penasaran seberapa jauh dan tinggi drone-mu bisa terbang. Jangan terlalu pede!

Jika menerbangkan terlalu jauh maka anda tak bisa memantau ada
rintangan apa saja yang menghadang, misalnya bentangan kabel listrik.
Mengandalkan kamera untuk melihat rintangan bukan jaminan, apalagi
kamera di drone hanya satu arah tanpa bisa melihat bagian belakang.

Pastikan juga diri anda masih dalam jangkauan masuk akal untuk berlari menghampiri drone anda jika sewaktu-waktu jatuh.

Selain jauh, jangan menerbangkan terlalu tinggi juga. Dikhawatirkan
anda tidak bisa menguasai keadaan dengan tekanan udara dan kencang angin
yang jauh di atas sana.

6. Jangan menerbangkan di dalam ruangan

Biasanya karena terlalu excited membuat anda ingin langsung
mencobanya di dalam ruangan setelah membuka kardusnya. Jangan lakukan
itu meski hanya mencoba sebentar jika anda bukan penerbang drone yang
sudah berpengalaman.

Latihan pertama bisa dilakukan dengan menerbangkan di jalanan tanpa menyalakan GPS. Setelah itu bisa lancar baru lakukan di indoor. Ya, GPS yang jadi permasalahan utama menerbangkan indoor.

Pasalnya, drone kekurangan sinyal GPS saat di dalam ruangan. Selain
itu VPS kesulitan mendeteksi permukaan lantai ubin untuk menyetabilkan
diri. Karpet juga menyerap ultrasound dan biasanya drone DJI Phantom
menggunakan sensor tersebut agar bisa terbang stabil.

7.Drone “kabur” gara-gara settingan RTH 

Drone memang canggih tapi tetap memiliki batasan, begitupun untuk settingan RTH (Return To Home). Penerbang beginner biasanya memilih pendaratan manual ketika baterai drone hampir habis. Namun mereka lupa meng-cancel RTH.

Jika itu terjadi maka nantinya drone akan terbang lagi setelah landing ke altitude yang sudah disetel kemudian baru balik ke pemilik.

Tapi yang biasa terjadi, pemilik akan panik saat melihat drone-nya
mendadak “kabur” sehingga menggunakan CSC untuk menghentikannya. Padahal
itu bisa membuat drone berakhir nabrak. Jadi jangan panik!

Jika anda memutuskan Phantom landing secara manual maka segera cancel RTH agar tidak kelupaan. Aman deh!

8. Nabrak setelah direm

Kasus drone yang tetap nabrak meski sudah direm banyak ditemui di
tangan para beginner. Perlu diingat bahwa sistem drone juga mirip
kendaraan bermotor alias tidak bisa direm mendadak.

Ada jarak antara sejak direm hingga bisa berhenti. Maka jangan
menerbangkannya terlalu ngebut setelah memotret. Rem perlahan saja
begitu anda melihat ada rintangan sejak di kejauhan.

9. Terbang mundur

Tanpa disadari beginner bisa jadi mencoba menerbangkan drone
mundur. Patut diingat bahwa kamera yang terpasang di bodi drone hanya
menghadap satu arah ke depan. Jika

anda menerbangkan mundur dan terpaku melihat pada tablet maka kemungkinan menabrak akan besar.

Jadi pastikan anda menerbangkannya masih dalam zona LOS
(Line-of-Sight) agar terus terpantau. Untuk berjaga-jaga juga pasang
ketinggian RTH di atas bangunan tertinggi di area penerbangan.

10. Sendirianlah saat belajar menerbangkan drone

Kembali lagi, drone itu mirip mobil. Jangan beramai-ramai saat anda
belajar mengemudikannya jika tidak ingin tabrakan. Tidak apa-apa jika
ingin bergantian mengendalikan remote control tapi jangan melakukannya
saat drone sedang terbang di langit. Daratkan dulu baru serahkan
remote-nya ke rekan anda.

Selain untuk mengurangi resiko peralihan kontrol berujung crash, pertanggungjawabannya akan lebih jelas jika terjadi sesuatu.

Terbangkanlah drone di area yang sepi agar anda fokus. Untuk yang
belum berpengalaman atau masih tahap belajar tentunya sulit memecah
konsentrasi untuk menerbangkan di area ramai. Ingat, anda
bertanggungjawab penuh atas drone anda mulai saat naik hingga mendarat
di tanah. So play safe better than sorry.

Berikan Ulasan Di sini