Mindafilm.com

Best Thriller Movies, Film News, School Editing,

Cerita Pilu di Balik Film Pemberantasan G30 S

4 min read
Spread the love

September bukanlah bulan yang ceria bagi Nani Nurrachman. Hatinya
terasa teriris setiap kali penghujung bulan ke-9 itu menjelang. Nani
adalah putri tertua Brigjen Sutoyo, salah satu perwira tinggi TNI-AD
yang menjadi korban peristiwa Gerakan 30 September 1965.

“Ini hal yang sulit diingkari dan diabaikan karena akan selalu muncul, apalagi menjelang 30 September,” sebut Nani suatu kali.

Kematian
tragis Sutoyo akan senantiasa membekas bagi Nani. Rupanya, masih ada
persoalan yang belum tuntas di antara bapak dan anak ini. Nani tak
sempat berdamai hingga jasad sang ayah ditemukan di dalam sebuah sumur
di Lubang Buaya, Jakarta Timur, pada 3 Oktober 1965.

Sutoyo
Siswomiharjo turut memprakarsai dibentuknya kesatuan Polisi Militer (PM)
Indonesia dan mengabdi di kesatuan itu hingga 1954. Dua tahun kemudian,
ia ditempatkan di Inggris selaku Asisten Atase Militer KBRI di London.

Sejak
1960, Sutoyo menjabat Inspektur Kehakiman Angkatan Darat, lalu
Inspektur Kehakiman/Jaksa Militer Utama. Namanya sempat menjadi kandidat
terkuat calon Jaksa Agung RI. Namun, ia batal dipilih karena diisukan
terlibat Dewan Jenderal yang berniat menggulingkan Presiden Sukarno.

Kenangan yang Tak Terucap

Dua
pekan sebelum terjadinya malam berdarah itu, Sutoyo kesal karena
mendapati mesin ketik di ruang kerjanya tidak dirapikan lagi setelah
dipakai. Ia menduga Nani pelakunya. Sebaliknya, Nani merasa tidak
melakukannya. Jikapun meminjam mesin ketik itu, pasti akan selalu ia
rapikan seperti semula.

Nani naik pitam atas tudingan tersebut,
bahkan sempat kabur dari rumah. Sutoyo yang kemudian menyesali emosi
sesaat itu lantas meminta maaf. Namun, Nani hanya membisu dan memasang
muka masam setiap kali ayahnya mendekat. Ia masih sakit hati meski
sebenarnya ingin menyambut tawaran damai itu.

BACA JUGA:   Heboh, Orang Kaya Dapat Bantuan Sedangkan Yang Miskin Beneran Gak Dapat

Sore tanggal 30
September 1965, sang ayah pulang ke rumah. Namun tidak lama, hanya untuk
mandi dan berganti pakaian. Sutoyo harus bergegas pergi lagi karena
Presiden Sukarno akan menyampaikan pidato di Istora Senayan.

Sebelum
menuju pintu keluar, Sutoyo hanya sempat meninggalkan ucapan selamat
tinggal kepada anak keduanya yang masih ngambek itu. “Sudah ya, Papap
pergi dulu,” ucap sang ayah sembari melambaikan tangannya kepada Nani,
yang lagi-lagi hanya diam tanpa balasan.

Rupanya, itu salam
terakhir papap—demikian anak-anak Sutoyo memanggilnya—untuk Nani, dan
juga untuk semua orang yang disayanginya.

Seisi rumah sudah
terlelap saat Sutoyo pulang beberapa jam berselang. Dini hari, ketika
penanggalan mulai memasuki tanggal 1 Oktober 1965, terdengar suara keras
dari luar. Nadanya kasar, memanggil Sutoyo untuk segera keluar.

Sang
jenderal sadar bahwa sesuatu yang buruk bakal segera terjadi. Semua
orang rumah pun terbangun, termasuk Nani yang bingung sekaligus
ketakutan. Dari kolong tempat tidur, ia mendengar orang-orang kasar itu
berbuat onar. Barang-barang di ruang tamu dihancurkan satu-persatu. Nani
semakin menggigil.

Sutoyo memilih tidak melawan demi menghindari
situasi yang lebih parah. Dengan tenang, ia mengikuti perintah
orang-orang yang mengaku sebagai anggota Pasukan Pengawal Presiden
Sukarno alias Cakrabirawa itu. Mereka memaksanya ikut dengan dalih atas
perintah presiden untuk segera menghadap.

Kabar yang berseliweran
setelah ayahnya dijemput paksa masih simpang-siur. Nani dan keluarganya
pun dibuat semakin bingung lagi panik, bertanya-tanya ke mana Sutoyo
dibawa pergi. “Kami tersiksa karena tidak pernah tahu nasib dan kondisi
ayah selama diculik,” kenang Nani.

BACA JUGA:   Subscene Diblokir, Warganet Marah: Maunya Apa Sih Kominfo?

Dan, berita buruk itu akhirnya
datang juga. Ayahnya, brigadir jenderal yang juga jaksa utama militer
itu, ditemukan tewas bersama 6 perwira TNI lainnya. Hingga
bertahun-tahun lamanya setelah kejadian memilukan itu, Nani masih
berduka, bahkan sempat terpuruk. Ada maaf yang belum terucap, ada sesal
yang belum tuntas.

Nani hanya bisa mengenang sang ayah melalui
buku yang ditulisnya berpuluh-puluh warsa berselang. Lembar-lembar
memori yang akhirnya diterbitkan pada 2013 itu ia beri judul: Kenangan Tak Terucap, Saya, Ayah, dan Tragedi 1965.

“Saya menerimanya sebagai suatu penutup dari perjalanan kita bersama. Saya hanya ingin mengenangnya,” tulis Nani dalam bukunya.

Belajar Memaafkan, Tanpa Dendam

Nani
yang masih berusia 15 tahun saat tragedi pada malam itu sama sekali
tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Kakak lelakinya, Agus
Widjojo, sepertinya juga sama.

“Saat itu saya tidak tahu jelas
perseteruan politik antara TNI Angkatan Darat dan PKI, dan kenapa ayah
saya dibunuh,” kata Agus yang nantinya mengikuti jejak sang ayah dengan
berkarier di dunia ketentaraan hingga kini menjabat sebagai Gubernur
Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).
“Pada waktu itu memang
tidak mudah membuat kesimpulan atau anatomi tentang apa hakikat
peristiwa ini dan siapa saja yang terlibat. Itu tidak bisa,” lanjutnya
kepada CNN Indonesia.

“… semua simpang siur, dan saya rasa itu
bagian dari sikap publik yang tidak tahu-menahu, kecuali yang terlibat
di dalam gerakan, ataupun pihak yang terkait di dalamnya,” imbuh anak
sulung Brigjen Sutoyo ini.

Dari surat-surat kabar yang dibacanya
setelah kejadian tersebut, Agus hanya tahu bahwa 7 perwira Angkatan
Darat, termasuk ayahnya, diculik tanpa disertai penjelasannya secara
lebih detil.
Infografik Sutoyo siswomiharjoAgus
baru memahami peristiwa G30S lama setelah itu, saat ia sudah menjadi
perwira militer, “Saya mencari informasi dari berbagai surat kabar umum,
mengandalkan sumber-sumber informasi terbuka yang kemudian saya cerna
dan analisis.”

BACA JUGA:   Heboh, Orang Kaya Dapat Bantuan Sedangkan Yang Miskin Beneran Gak Dapat

Akhirnya, Agus yakin bahwa petinggi PKI, DN Aidit,
terlibat sentral dalam peristiwa itu. “Saya tahu Aidit dalang pembunuhan
itu setelah mencari tahu,” ucapnya.

Sebagai anak pahlawan
revolusi yang menjadi korban G30S, Agus tidak menyimpan dendam. Ia
bahkan memprakarsai pembentukan Forum Silaturahmi Anak Bangsa yang di
antaranya menaungi anak-anak dari kedua belah pihak. Tahun lalu, ia juga
menjadi panitia pengarah simposium tentang 1965 yang sedianya menjadi
salah satu pijakan untuk rekonsiliasi.

“Simposium dan pengungkapan
kebenaran justru berguna untuk mengikhlaskan masa lalu, tetapi tidak
melupakan mengambil pelajaran dengan apa yang salah, guna menuju
rekonsiliasi,” kata Agus.
Nani tampaknya sependapat dengan sang
kakak. Meskipun pedih setiap kali mengingat peristiwa itu, Nani
menyadari bahwa tidak akan ada ujungnya jika persoalan ini terus saja
dipermasalahkan. Ia berusaha meredam dendam dan memaafkan, seperti yang
ternukil dalam bukunya:

“Suatu tragedi adalah pergumulan nasib
yang tidak dapat dimenangkan. Tragedi tidak akan pernah berlalu karena
peristiwanya selalu diingat. Rasa sakit dari penderitaan seseorang tidak
dapat dibandingkan atau dipertukarkan dengan penderitaan orang lain.
Tetapi hanya dapat ditemukan maknanya bila yang mengalami dapat memberi
arti demikian bagi hidupnya.”

Baca juga artikel terkait PAHLAWAN REVOLUSI atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hayo Mau Ngopi ya?