Tanggapan terhadap Kajitow Elkayeni tentang Perfilman Indonesia yang sangat Buruk

Tertarik membaca status /opini/luahan hati Kajitow Elkayeni tentang Perfilman Indonesia. Sangat tajam. Pertanyaannya ... kamu adakah kamu bisa bikin film yang bagus itu. Setajam itu kritik kamu terhadap perfileman sudah selayaknya kamu membikin film yang lebih bagus itu ... minimal ada bikin film.
Memangnya Film Indonesia Ada yang Bermutu?
Setiap kali ke bioskop, saya tidak menonton film Indonesia. Kecuali ada rekomendasi sebelumnya. Dibayarpun saya tidak mau. Menonton film Indonesia, di samping membuang waktu, uang, juga menghabiskan emosi. Di sepaniang film itu ada banyak hal yang layak kritik. Saya tidak terhibur dengan film Indonesia yang saya tonton itu. Apakah saya egois?
Foto Kajitow Elkayeni.
Saya hanya konsumen yang ingin hak saya dipenuhi. Kalau pembuat film itu memang tak becus bikin film, mending jualan cendol. Jangan merusak perfilman. Saya tidak bisa menyebut satu film pun yang layak saya rekomendasikan. Dari semua genre, film laga model The Raid agak mendingan. Namun tetap jauh jika ingin dianggap pantas sebagai tontonan berkualitas.
Hanung adalah contoh satu nama yang membuat saya menyerah sebelum disuguhi filmnya. Setiap film bertema sejarah yang dia bikin pasti kacau. Hanung, atau siapapun yang bekerja bareng dengannya itu tak bisa bikin film. Kalaupun bisa ya hanya film sekadar. Film yang membuat bintang di jamannya seperti Christine Hakim sekalipun akan tampak meredup.
Film-film Indonesia yang dibuat serampangan itu sudah gagal sejak casting. Memilih aktor saja tidak bisa, scriptnya sok filosofis, detil kostum berantakan. Kualitas kamera, termasuk pengambilan sudut pandang juga banyak yang sekadar. Bahkan yang paling telak, menyusun plot, menampilkan fragmen andalan film juga tak bisa. Sehabis nonton itu tak ada yang layak kita bayangkan.
Film soal Soekarno, lihat bagaimana hancurnya gambaran Soekarno di sana. Gambaran yang klise, Soekarno jadi-jadian. Film tentang Wiji Thukul (sutradara Yosep Anggi Noen) hanya menonjolkan kakus. Ini orang-orang yang tak punya imajinasi tapi memaksakan diri bikin film. Kalau di Indonesia memang belum ada yang becus bikin film, kerjasama dengan rumah produksi yang berkualitas dari luar.
Akui kekurangan. Jangan memproduksi sampah untuk dibayar orang. Film Wiro Sableng yang terbaru melakukan hal itu. Dan agaknya layak dicoba.
Ada kabar tersiar, Hanung akan memfilmkan novel Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia. Mendengar itu saya mau salto. Sejak casting saja saya mual lihat aktornya. Tak perlu bertanya bagaimana kemampuan aktingnya. Film juga perlu melihat tampilan. Menyesuaikan latar sejarah. Lihat bagaimana Amerika mencari aktor yang benar-benar mirip. Karakter fisik yang kuat itu penting, selain kemampuan akting.
Dan jebloknya Indonesia itu, aktingnya juga seolah-olah. Marahnya, marah seolah-olah, bingungnya, bingung seolah-olah, takutnya, takut seolah-olah. Dan itu diloloskan oleh sutradara. Mereka membikin film sekadar. Dan orang harus membayar untuk tontonan tak bermutu itu.
Nasib buruk Bumi Manusia ditentukan oleh film Hanung itu nantinya. Saya memang tidak akan menonton, kecuali ada rekomendasi dari ahli film yang sudah menontonnya. Kalaupun film itu tak laku karena tulisan seperti ini, itu risiko dia. Kalau memang tak bisa bikin film, mending jualan cendol.
Sudah cukup sampah di negara ini.
Film-film Indonesia memang mengecewakan. Ada sedikit perbaikan di film horor dengan ending mengambang. Ustad bisa kalah dari setan. Ini pencapaian yang luar biasa untuk kelas inferior Indonesia. Meskipun yang di luar sana sudah entah lari ke mana.
Ini komentar saya sebagai penonton. Jangan pula ada pertanyaan, "Memang kamu bisa bikin film?" Untuk membandingkan film layak dan film buruk, tak harus bisa membuat film. Cukup ditonton, dihayati. Film-film Amerika juga banyak yang buruk, terutama film berbiaya murah. Tapi setidaknya, mereka terbukti bisa bikin film bagus.
Bukan soal cinta tak cinta pada karya anak bangsa. Saya konsumen. Hak saya mendapat tontonan yang layak. Memangnya film Indonesia ada yang bermutu?

No comments

Powered by Blogger.