MindaFilm.com

Best Thriller Movies

Tanggapan terhadap Kajitow Elkayeni tentang Perfilman Indonesia yang sangat Buruk

3 min read
Tertarik membaca status /opini/luahan hati Kajitow Elkayeni tentang Perfilman Indonesia. Sangat tajam. Pertanyaannya … kamu adakah kamu bisa bikin film yang bagus itu. Setajam itu kritik kamu terhadap perfileman sudah selayaknya kamu membikin film yang lebih bagus itu … minimal ada bikin film.

Memangnya Film Indonesia Ada yang Bermutu?
Setiap kali ke
bioskop, saya tidak menonton film Indonesia. Kecuali ada rekomendasi
sebelumnya. Dibayarpun saya tidak mau. Menonton film Indonesia, di
samping membuang waktu, uang, juga menghabiskan emosi. Di sepaniang film
itu ada banyak hal yang layak kritik. Saya tidak terhibur dengan film
Indonesia yang saya tonton itu. Apakah saya egois?

Foto Kajitow Elkayeni.

Saya hanya
konsumen yang ingin hak saya dipenuhi. Kalau pembuat film itu memang tak
becus bikin film, mending jualan cendol. Jangan merusak perfilman. Saya
tidak bisa menyebut satu film pun yang layak saya rekomendasikan. Dari
semua genre, film laga model The Raid agak mendingan. Namun tetap jauh
jika ingin dianggap pantas sebagai tontonan berkualitas.
Hanung
adalah contoh satu nama yang membuat saya menyerah sebelum disuguhi
filmnya. Setiap film bertema sejarah yang dia bikin pasti kacau. Hanung,
atau siapapun yang bekerja bareng dengannya itu tak bisa bikin film.
Kalaupun bisa ya hanya film sekadar. Film yang membuat bintang di
jamannya seperti Christine Hakim sekalipun akan tampak meredup.
Film-film Indonesia yang dibuat serampangan itu sudah gagal sejak
casting. Memilih aktor saja tidak bisa, scriptnya sok filosofis, detil
kostum berantakan. Kualitas kamera, termasuk pengambilan sudut pandang
juga banyak yang sekadar. Bahkan yang paling telak, menyusun plot,
menampilkan fragmen andalan film juga tak bisa. Sehabis nonton itu tak
ada yang layak kita bayangkan.
Film soal Soekarno, lihat
bagaimana hancurnya gambaran Soekarno di sana. Gambaran yang klise,
Soekarno jadi-jadian. Film tentang Wiji Thukul (sutradara Yosep Anggi
Noen) hanya menonjolkan kakus. Ini orang-orang yang tak punya imajinasi
tapi memaksakan diri bikin film. Kalau di Indonesia memang belum ada
yang becus bikin film, kerjasama dengan rumah produksi yang berkualitas
dari luar.
Akui kekurangan. Jangan memproduksi sampah untuk
dibayar orang. Film Wiro Sableng yang terbaru melakukan hal itu. Dan
agaknya layak dicoba.
Ada kabar tersiar, Hanung akan memfilmkan
novel Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia. Mendengar itu saya mau salto.
Sejak casting saja saya mual lihat aktornya. Tak perlu bertanya
bagaimana kemampuan aktingnya. Film juga perlu melihat tampilan.
Menyesuaikan latar sejarah. Lihat bagaimana Amerika mencari aktor yang
benar-benar mirip. Karakter fisik yang kuat itu penting, selain
kemampuan akting.
Dan jebloknya Indonesia itu, aktingnya juga
seolah-olah. Marahnya, marah seolah-olah, bingungnya, bingung
seolah-olah, takutnya, takut seolah-olah. Dan itu diloloskan oleh
sutradara. Mereka membikin film sekadar. Dan orang harus membayar untuk
tontonan tak bermutu itu.
Nasib buruk Bumi Manusia ditentukan
oleh film Hanung itu nantinya. Saya memang tidak akan menonton, kecuali
ada rekomendasi dari ahli film yang sudah menontonnya. Kalaupun film
itu tak laku karena tulisan seperti ini, itu risiko dia. Kalau memang
tak bisa bikin film, mending jualan cendol.
Sudah cukup sampah di negara ini.
Film-film Indonesia memang mengecewakan. Ada sedikit perbaikan di film
horor dengan ending mengambang. Ustad bisa kalah dari setan. Ini
pencapaian yang luar biasa untuk kelas inferior Indonesia. Meskipun yang
di luar sana sudah entah lari ke mana.
Ini komentar saya sebagai
penonton. Jangan pula ada pertanyaan, “Memang kamu bisa bikin film?”
Untuk membandingkan film layak dan film buruk, tak harus bisa membuat
film. Cukup ditonton, dihayati. Film-film Amerika juga banyak yang
buruk, terutama film berbiaya murah. Tapi setidaknya, mereka terbukti
bisa bikin film bagus.
Bukan soal cinta tak cinta pada karya
anak bangsa. Saya konsumen. Hak saya mendapat tontonan yang layak.
Memangnya film Indonesia ada yang bermutu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hayo Mau Ngopi ya?