Hukum Profesi Fotografer Menurut Islam Memfoto Model Umbar Aurat

Salah satu kecanggihan dunia modern adalah munculnya teknologi bernama fotografi atau kamera. Dengan alat ini Anda bisa mengabadikan setiap moment apa saja: pohon, rumah, pemandangan, laut, kegiatan, pernikahan, bahkan diri Anda sendiri. Saat ini hampir semua orang pernah memoto atau difoto. Dengan kata lain, sebagian besar umat Islam pasti pernah menggunakan perangkat kamera. Maklum, di handphone sendiri alat ini sudah dipastikan ada. Handphone yang tidak ada kameranya, pasti tidak akan laku di pasaran.Pertanyaannya: bagaimana Islam sendiri memandang fotografi ini?

Menurut jumhur ulama mutaakhirin (masa kini) seperti Syekh Bakhit Muthi’i, Syekh Jadul Haq Ali Jadul haq, Syekh Ali Al-Sais, Syekh Yusuf Al-qardhawi, Syekh  Mutawalli sya’rawi, Syekh Ramadhan al-Bouty dan Syekh Ali Jumah bahwa hokum fotografi adalah mubah (boleh) selama tidak menyimpang dari syariat Islam.Mereka rata-rata berpendapat bahwa fotografi bukanlah tashwir (menggambar) seperti yang diharamkan dalam hadits. Proses fotografi merupakan rekaman bayangan dan lebih menyerupai dengan video.

Syekh Ali Al-Sais mengibaratkan foto yang dihasilkan oleh media fotografi  seperti seorang yang berdiri di depan cermin lalu cermin tersebut memantulkan sebuah gambar. Apakah gambar yang dipantulkan oleh cermin tersebut bisa dikatakan sebuah gambar yang dilukiskan oleh seseorang? Tentunya tidak. Demikianlah cara kerja sebuah kamera yang menyerupai cara kerja cermin dalam memantulkan gambar.

Mufti Mesir masa dahulu, yaitu Al ‘Allamah Syekh Muhammad Bakhit Al Muthi’i di dalam risalahnya yang berjudul Al Jawabul Kaafi fi Ibahaatit Tashwiiril Futughrafi berpendapat bahwa fotografi itu hukumnya mubah. Beliau berpendapat bahwa pada hakikatnya fotografi tidak termasuk ke dalam aktivitas mencipta sebagaimana disinyalir hadits dengan kalimat “yakhluqu kakhalqi” (menciptakan seperti ciptaan-Ku), tetapi foto itu hanya menahan bayangan. Lebih tepatnya, fotografi ini diistilahkan dengan “pemantulan”, karena ia memantulkan bayangan Dalam bukunya Al Halal wal Haram, Syekh Yusuf Al Qaradhawi mengatakan bahwa fotografi tidak terlarang dengan syarat objeknya adalah halal. Dengan demikian, tidak boleh memotret wanita telanjang atau hampir telanjang, atau memotret pemandangan yang dilarang syara’. Tetapi jika memotret objek-objek yang  tidak terlarang, seperti teman atau anak-anak, pemandangan alam, ketika resepsi, atau lainnya, maka hal itu dibolehkan.

Kemudian, lanjut Syekh Al Qaradhawi, ada pula kondisi-kondisi tertentu yang tergolong darurat sehingga memperbolehkan fotografi meski terhadap orang-orang yang diagungkan sekalipun, seperti untuk urusan kepegawaian, paspor, atau foto  Ketika ditanya soal hukum fotografi, Syekh Muhammad Mutawalli Sha’rawi  juga mengatakan bahwa gambar fotografi itu tidak apa-apa apalagi kalau ia tidak dikonfigurasi dan jauh dari modulasi bentuk aslinya.Singkatnya, gambar yang dihasilkan lewat proses fotografi atau kamera hukumnya mubah (boleh). Asalkan, objek fotonya adalah sesuatu yang tidak terlarang.

Takut Dosa Fotografer ini Menolak Foto Prewedding atau PraNikah




Penolakan jasa prewed (COV)
Takut Dosa Fotografer ini Menolak jasa prewedding Pasangan Pengantin PraNikah (Foto: Facebook Hendy Wicaksono)
Sudah jadi tren untuk pasangan yang mau melangsungkan pernikahan, mereka melakukan foto-foto prewedding. Zaman sekarang, foto prewedding semacam menjadi kebutuhan tersendiri bagi calon pasangan suami istri.

Tak heran bila sekarang banyak sekali fotografer yang menyediakan jasa foto prewedding dengan segala promo-promo menarik yang ada. Namun berbeda dengan sikap Hendy Wicaksono seorang fotografer terkenal ini.

Sebuah sikap tak biasa dilakukan oleh fotografer pernikahan bernama Hendy Wicaksono (32). Fotografer yang berdomisili di Surabaya, Jawa Timur, itu menolak pesanan foto pertunangan dan prewedding. Saat banyak fotografer yang bersaing untuk memberikan jasa foto pewedding-nya, ia malah berhenti untuk tidak memberikan jasa tersebut.

Terkait sikap unik ini, dikutip dari kumparan (kumparan.com) yang menghubungi Hendy Wicaksono, (29/11), menurutnya awal keputusannya karena hatinya tergerak dan mendapat hidayah setelah sahabatnya meninggal dunia pada Mei 2017 lalu.

"Saya bertanya-tanya yang saya lakukan di dunia apa sudah siap dipertanggungjawabkan. Setelah kejadian itu. Saya mendekatkan lagi ke agama. Saya belajar lebih dalam tentang Islam. Dan saya merasa prewedding yang saya lakukan ini dosa besar yang harus saya tinggalkan. Karena saya sadar saya seorang fotografer wedding saya lah yang mempelopori budaya prewedding di Indonesia. Oleh karena itu saya harus hentikan ini," ujarnya.

Fotografer Hendy Wicaksono
Fotografer Hendy Wicaksono (Foto: Intagram/@hendywicaksono)

Sikap menolak pesanan foto prewedding atau pertunangan tersebut dimulai sejak Agustus 2017, akan tetapi dikarenakan adanya beberapa kontrak yang belum terselesaikan, ia harus melakukan tanggungjawabnya kepada klien dan dirinya benar-benar untuk tidak memotret prewedding dan tunangan sejak satu bulan terakhir dan diumumkan melalui media sosial pada Sabtu, (26/11).

Hendy melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan. Dia melakukan hal itu karena tidak ingin memiliki andil dalam sebuah hal yang dilarang agama.

"Saya sadar sebagai seorang muslim dalam Islam pria dan perempuan yang belum halal dilarang untuk bersentuhan karena hukumnya haram. Sering sekali pasangan tersebut untuk pegangan tangan, peluk hingga ciuman. Saya sebagai fotografer dikatakan dalang dari perbuatan tersebut, otomatis dosanya lebih besar," ucap Hendy.

Hendy menceritakan dirinya mendapatkan hidayah dari Tuhan di saat berada di puncak karier, namanya melambung tinggi di kalangan gubenur hingga para artis, sehingga keputusannya untuk menolak foto prewedding terasa berat.

"Berat memang meninggalkan prewedding ketika kondisi saya sudah pada zona nyaman. Tapi saya yakin bila saya tinggalkan ini semua karena Allah. Insya Allah akan digantikan dengan yang lebih baik. Kalaupun tidak berarti Allah sudah menyiapkan tempat khusus di surga. Amin," sambungnya.
Keputusan Henry disambut baik dan didukung oleh keluarganya. Walaupun ada beberapa rekan kerjanya di awal merasa terkejut, tetapi akhirnya keputusan menolak job foto prewedding dihargai.

Baca Juga :
5 Pernikahan Artis Korea Selatan di Tahun 2017
Cinta Tesa dan Ken: Berawal dari Taksi Online Berakhir di Pelaminan
5 Langkah Mengelola Gaji agar Rencana Menikah Segera Terwujud

Sikap Hendy menolak foto tunangan dan pre-wedding itu viral di media sosial. Netizen pun merespons sikap Hendy dengan doa dan rasa salut.

"Subhanallah, meninggalkan sesuatu karena Allah, insya Allah berkah. Maaf, blh kah saya bagikan Postingan ini? Terima kasih," tulis @AlhafsyiYusrah dalam kolom komentarnya.
"Mantapps... Angkat jempol buat sodara ku. Semoga barokah hidup mu wahai sodara ku. .
Amiin..," tulis @Damayfuad
"Smoga Allah mnbuka pintu rezeki dgn cra yg lain ya mas,,kami salut dgn anda," tulis @Yunita

Salah Fotografer atau Salah Modelnya? Siapakah yang Paling Bersalah dalam Hal ini?


Siapa sih yang belum pernah lihat foto porno? sekarang dengan begitu mudahnya kita secara tidak sengaja menemukan foto-foto porno di google. TIDAK SENGAJA karena memang disaat kita mencari foto dengan kata bantu tertentu, sering kali ada foto porno yang ikutan tampil. padahal kata bantu yang kita ketik pun sama sekali tidak ada hubungannya dengan pornografi.

Fenomena internet dan kemajuan teknologi gadget saat ini telah menciptakan sebuah sisi pendewasaan yang terlalu cepat bagi mereka yang belum cukup usia, terutama anak-anak usia sekolah. Ini tentunya hal yang sangat memrihatinkan. Siapakah yang harus disalahkan? Mari kita lihat dari berbagi sisi.

Himbauan untuk Jangan Bugil Di Depan Kamera sudah berkali-kali digalakkan, saya sendiri sudah sejak 2005 sudah membuat poster anjuran Dilarang Bugil Di Depan Kamera, yang saya sebarkan melalui forum dan blog-blog. Banyak pihak yang melakukan hal yang sama. Bahkan pemerintah pun sudah berkali-kali menggalakkannya, tetapi masih saja tetap terjadi.

Dalam hal ini pemerintah bisa dibilang salah, bisa juga tidak, karena keterbatasan kemampuan tentunya. Kemampuan ponsel (telepon selular) yang saat ini sudah dilengkapi fasiltas rekam foto, suara, dan video, juga dengan kecanggihan operator selular yang memungkinkan pelanggan mengirim foto / video langsung ke internet menjadikan sampah porno aksi di internet semakin banyak.
Tapi kita tidak bisa menyalahkan operator, karena semua kan kembali ke perilaku pelanggan. Ibarat koran, isi diluar tanggung jawab percetakan. Nah operator memfasilitasi sistem pemindahan data, bukan mengurusi isi data yang dipindah. Jadi dalam hal ini operator tidak bisa disalahkan.
Google atau mesin pencari lainnya di internet juga posisinya seperti operator selular, karena google sendiri hanya memfasilitasi pengguna internet sebagai mesin pencari terlengkap. Saat ini belum dimungkinkan teknologi menyaring semua foto yang ada di internet untuk melakukan sensor secara auto. Karena bahasa di mesin pencari kebanyakan tergantung dari tag / metadata / caption yang ada dalam foto / website yang bersangkutan. Dengan cumlah ratusan miliar foto yang ada di internet, kecolongan gambar yg tampil masih sangat besar. Google masih tidak bisa disalahkan juga.
Penyedia jasa internet / internet service provider (ISP) juga belum bisa maksimal mencegah bisa tidaknya sebuah gambar dibuka. Proteksi pemerintah melalui ISP dengan ngeblok alamat IP dan alamat domain yang terkait dengan pornoaksi juga belum berhasil. Masih ribuan link yang terakses dari situs pencarian. ISP kali ini juga tidak bisa disalahkan. Model / manusia / korban yang ditampilkan juga tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Kalau kita amati, ada banyak korban porno aksi yang tidak menyadari, karena foto2nya diambil disaat korban tidak menyadari.
Bila foto yang ditampilkan adalah foto yang memang sengaja si model berpose, dan menatap kamera, ditempat yang memang dia sadari, jelas-jelas orang tersebut dosa besar. kenapa dosa besar? nanti akan saya jelaskan.
Fotografer? Salahkah dia? Secara profesi fotografer tidak bisa disalahkan, dari ratusan ribu fotografer di Indonesia, baik yang profesional dan amatir, jelas ada beberapa "oknum" yang menurut saya memang cukup berperan.
Di sini yang saya soroti adalah fotografer yang menyalah gunakan profesinya. Kenapa menyalahgunakan profesinya? Karena banyak fotografer yang kadang lupa diri dan mencoba merayu modelnya untuk foto lebih, dalam istilah fotografer disebut KT (kategori terbatas).
Di dalam fotografi ada art photography, atau fotografi yang mengutamakan seni murni, mencari sebuah nilai seni dari dunia fotografi. Kebanyakan bukan untuk tujuan komersial, tetapi lebih untuk mengangkat nilai jual sang fotografer.
Hal ini tidak mudah memang, perlu proses panjang. Nah, dalam proses panjang tadi seringkali ada etika-yang dilanggar. Biasanya, bila sebuah komunitas fotografer melakukan foto KT, ada kesepakatan bersama untuk TIDAK DIPERBOLEHKAN mempublish / menyebarkan foto tersebut kepada pihak lain, karena tujuannya untuk belajar, dan untuk konsumsi sendiri si fotografer / si model.
Dan bila ini dilakukan, maka tidak menjadi persoalan. Yang jadi persoalan biasanya "seorang" fotografer, yang dengan kata-kata manisnya merayu modelnya untuk berfoto KT, dengan berjuta alasan hingga sang model terbujuk.

Karena hanya berdua, maka tidak ada kesepakatan resmi yang kuat, yang kadang hal ini mudah dilanggar dibelakang hari. Pelanggaran biasanya dilakukan si pemilik foto, yang karena suatu hal bermasalah dengan si model.

Nah, dengan emosi yang terbawa bisa saja dengan mudah si oknum "fotografer" tersebut mengirim foto-foto KT tersebut ke dunia maya. Jadilah si model menjadi korban. Disini jelas yang salah si fotografer dalam tanda kutip.

ABG labil atau pasangan kasmaran juga sangat mudah melakukan hal-hal yang diluar kendali mereka, karena biasanyanya dalam kondisi kasmaran, sepasang kekasih bisa memadu cinta ditempat-tempat yang tidak selayaknya, yang seringkali disitu berpasang-pasang mata sudah menanti untuk mengabadikan moment tersebut.

Ada juga sepasang kekasih yang karena sudah "cinta mati" saat memadu kasih "dengan bangga" mereka abadikan dengan memakai ponsel. Baik foto maupun video. Hal ini mungkin sudah menjadi penyakit masyarakat.

Mereka lupa bahwa tindakannya akan sangat rentan terhadap penyebaran pornoaksi di dunia maya. Mereka tidak sadar bila hasil rekaman, baik foto dan video, meskipun mereka hapus bisa saja dengan "tidak sengaja" dimiliki oleh pihak ketiga dan seterusnya. Kita masih ingat beberapa video tidak senonoh, baik dari pasangan artis, pejabat, dan oknum lainnya.

Bahkan anggota DPR yang sedang sidang pun menyempatkan menonton diri melihat gamabr tidak senonoh tersebut. Melihat gambar tersebut mungkin tidak akan jadi masalah bila ditempat yang memang privasi, dan diwaktu yang tepat, karena sebagai manusia tentu tidak lepas dari godaan. Seberapa besarkah dosa yang ditimbulkan?

Sebagai model -- obyek yang masuk dalam foto / video -- tentunya bila itu dilakukan secara sadar, berarti dia secara sadar harus berani menanggung dosanya, demikian juga sebagai fotografer / orang yang merekam, mempunyai peran yang sama.

Yang paling parah dosanya menurut saya adalah orang yang mengupload / mengirimkan ke internet. Mungkin kesannya sepele, hanya mengirimkan foto / file ke internet. Tetapi justru dari situ ribuan mata bahkan jutaan mata bisa saja melihat, baik dengan sengaja atau tidak. Orang yang melihat gambar tersebut, dan "menikmati" gambar tersebut, jelas berdosa menurut agama, dan juga seringkali timbul tingkah negatif yang ditimbulkan karena sering menikmati foto / video kategori terbatas tersebut.

Kita nggak kaget bila mendengar anak-anak usia sekolah melakukan pesta seks, kita nggak kaget bila anak-anak usia sekolah sudah paham betul dunia dewasa. Yang sesungguhnya ini sangat dan sangat memrihatinkan. Karena mereka mengetahuinya dari internet yang notabene tanpa pengarahan akan bahaya / resikonya.

Bisakah kita mengurangi semua itu? bila mengurangi yang sudah ada tentunya sulit sekali, tetapi bila mencegah berkembangnya dunia "tidak jelas" tersebut mungkin kita mau nggak mau ahrus ikut berperan. Kita sadarkan siapa-siapa yang ada kemungkinan mereka melakukan "kealpaan" untuk memproduksi pornoaksi tersebut, ada baiknya kita cegah pelan-pelan.

Ingat, 20 tahun lagi akan sangat indah bila anak cucu kita masih dalam pendewasaan yang normal sesuai usianya. Sehingga hidup normal akan terjauh dari lingkungan yang salah. Yang sudah terjadi angaplah semua sebagai materi untuk koreksi diri kita ke depan, Selamatkan generasi kita mulai dari dirikita sendiri. JANGAN BUGIL DI DEPAN KAMERA!!!!! Semoga tulisan ini bermanfaat. [@mbahTonno | Jakarta 9 Februari 2012]

No comments

Powered by Blogger.