MindaFilm.com

Best Thriller Movies

Nasehat seorang Ayah kepada Anaknya yang Baru di Wisuda

2 min read

Nasehat seorang Ayah kepada Anaknya yang Baru di Wisuda…:

Anakku…..

Jadi pegawai itu enak…, pendapatan terjamin tetapi rezeki ditakar.

Sedangkan jadi pengusaha itu tidak enak…, pendapatan tidak terjamin tetapi rejeki tidak ditakar.

Maka…; jika kau mau jadi pegawai…, jadilah pegawai yang baik walau rezeki ditakar.

Kalau kau mau jadi pengusaha…, jadilah pengusaha yang baik walau pendapatan tidak terjamin.

Dengan begitu…, akan membuat engkau berdamai dengan kenyataan.

Orang cerdas itu sadar di mana dia berdiri…, dan tahu menempatkan diri.

Kalau kau ingin kaya raya…, jadilah pengusaha…, jangan jadi pegawai.

Kalau engkau tak sanggup menghadapi ketidak pastian pendapatan…, jangan jadi pengusaha…., tetapi jadilah pegawai.

Kalau engkau tidak bisa berdamai dengan kenyataan…, dimanapun posisimu…, pasti buruk jadinya.

Kalau mau terjun ke bisnis…, apa yang harus engkau lakukan…?

Jadi pengusaha itu butuh modal…, apapun rencanamu akan berujung frustasi bila tidak ada modal.

Akhlak…, itulah modal kamu sesungguhnya.

Caranya….?

Hormatilah orang kaya…, jangan keraskan hatimu kepada mereka.

Jika mereka curiga dan tidak percaya kepadamu…, jangan berkecil hati…, kamu harus berjuang merebut hatinya.

Kalau misalnya karena itu kamu harus jadi pegawainya…, jangan berharap gaji…; tetapi berharaplah kepercayaan darinya.

Tunjukan bahwa kamu bernilai di hadapannya.

Sabarlah selalu…, walau harapan terlalu sulit menjadi kenyataan.

Sekali mereka percaya…, masalah modal teratasi…, jalan terbuka lebar.

Jagalah itu selalu.

Kemudian…, kalau kamu dapat kepercayaan modal…, jangan pernah melawan pemerintah.

Lakukan apapun bisnis yang tidak dilarang pemerintah.

Seburuk apapun pemerintah…, jauh lebih buruk bila engkau melawannya.

Jadi…, jauh lebih baik bila engkau tidak melawannya.

Mengapa….?

Tidak ada pengusaha bisa sukses…, bila dia melawan pemerintah.

Kamu bisa berteman dengan pejabat…, tapi jangan terlalu dekat…, karena kedekatan itu tidak akan membuat nilaimu bertambah.

Antara kamu dan mereka sangat jauh bedanya…; mereka pegawai yang terbiasa hidup aman…, sementara kamu pengusaha yang selalu tidak aman.

Perbedaan jalan hidup…, juga akan berbeda persepsi dalam menghadapi masalah.

Kemudian…, jangan engkau hina orang miskin…, sayangilah mereka.

Sekeras apapun…, seburuk apapun…, prasangka mereka kepadamu…, maafkan mereka.

Maklumi mereka…, hadapi mereka dengan cinta.

Kalau kamu membenci mereka…, kita akan menzoliminya.

Sementara bila mereka membencimu…, tidak akan menzolimimu.

Tidak ada yang lebih baik…, kecuali bersabar atas sikap mereka.

Mengapa…?

Karena dari si miskin kau belajar mencintai…, dan mendapatkan hikmah untuk tak henti bersyukur kepada Tuhan.

Dari mereka engkau akan mendapatkan doa…, dan doa orang miskin itu sangat didengar Tuhan.

Kalau orang berkata…, resiko itu harus dihindari…, tetapi sebagai pengusaha engkau harus berkata…, resiko itu harus dihadapi.

Memang bisa saja karena resiko itu kau terluka…, terjatuh…, terhina…;

tetapi karena itu engkau bisa berubah lebih baik dari waktu ke waktu…,

dan paham menghargai proses dan tahu arti mencintai.

Gunung itu tinggi…, dakilah…; jangan takut dengan terjalnya bukit dan semak belukar.

Kalau engkau sampai di puncak…, ceritakanlah kepada orang lain…, agar mereka tahu jalan mencapainya dan mendapatkan hikmah…:

Bukan jalan naik yang sulit…, tetapi bagaimana bisa turun dengan rendah hati .., dan selesai dalam husnul khotimah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hayo Mau Ngopi ya?