Kisah Inspirasi: Si Sulung yang Ku Benci

Kisah Inspiratif: Si Sulung yang Kubenci

Kisah Inspiratif: Si Sulung yang Kubenci

Jangan pernah abaikan atau pilih kasih apalagi benci terhadap salah satu dari anak-anakmu.

Boleh jadi di antara mereka yang kau benci adalah yang paling berbakti.

Kisah Inspirasi

Kisah Inspirasi: Si Sulung yang Ku Benci

Anissa Qurrota Ayyuni namanya, anak perempuan penyejuk hati kedua orangtua. Buah hati pertamaku dan suamiku. Di penantian tahun ke dua, saat aku nyaris diceraikan suamiku karna tak kunjung hamil, ia datang merubah mendung menjadi terang. Dua garis merah membuat seisi rumah bahagia, tangis manja pertamanya menjadi suka cita. Anak pertama, cucu pertama, keponakan pertama, Ia sangat dinanti. Semua perhatian tertuju padanya, akupun nyaris cemburu terhadap putriku sendiri.

Namun tak berlangsung lama, aku kembali hamil saat Nisa berusia 3 bulan. Genap 1 tahun Nisa sudah mempunyai seorang adik perempuan, Annida namanya. Paras Nida berbanding terbalik dengan Nisa. Jika Nisa berkulit gelap seperti Bapaknya, Nida terlahir bak salju, putih meneduhkan, membuat kagum mata yang melihat.

Di ulang tahun Nida yang pertama aku menyadari bahwa aku tengah hamil anak ketiga. Semua berharap akan ada anak laki-laki sebagai pelengkap kebahagiaan. Namun, kelahiran Annika membuat suamiku justru semakin penasaran, ingin aku segera hamil kembali agar mendapat anak laki-laki.

Nika sama seperti Nida, nyaris mirip seperti anak kembar, sifatnya juga mirip, mereka tak pernah menyusahkanku. Berbeda dengan Nisa yg berani menentangku. Jika keinginannya tidak dituruti dia akan menangis dan teriak hingga seisi rumah keluar menghampirinya. Terlebih saat usianya 5 tahun, saat si kembar Ammar dan Akmal lahir, kelakuannya semakin menjadi, saat aku marah maka dia akan berlindung di balik badan Neneknya. Saat ini aku mulai membencinya, terlebih banyak yg membelanya ketika aku memarahinya.

Ada saja tingkahnya yang memancing emosiku. Dia sangat aktif sampai tiada hari tanpa membuat rumah bak kapal pecah, suaranya sangat nyaring memekakkan telinga, dia suka bermain di luar rumah bersama teman-temannya hingga lupa waktu, baju seragam sekolahnya bisa berubah warna, putih saat berangkat dan menjadi coklat saat pulang sekolah. Semua tingkah lakunya membuatku geram. Sudah berkali-kali dia kucambuk, tapi tetap diulangi. Sudah berkali-kali dia kuusir, tapi dia tetap disini. Seperti tak ada jeranya.

Pernah suatu saat ia membohongiku, pamit untuk mengaji, nyatanya ia malah main dengan teman-temannya mencari kecebong di selokan air. Aku naik pitam, kuseret Nisa sampai ke rumah, ku robek-robek buku mengajinya, aku buang semua bajunya ke jalan, jika tak ada neneknya mungkin Nisa sudah mati ku hajar.

Tapi itulah Nisa, dia akan merayuku, meminta maaf, bersujud di kaki ku, membantu semua pekerjaan rumah, dia tidak akan kemana-mana sampai aku memaafkannya. Tanpa bosan, tanpa kenal lelah membujuk serta merayuku, agar kuberi maafku. Kadang terpaksa aku memaafkannya atas bujukkan dari Nenek dan Bapaknya. Namun, bukan Nisa namanya jika ia tak mengulangi perbuatannya. Suamiku bilang, sikapku terhadap Nisa sudah keterlaluan, tapi tahukan dia bahwa Nisa yang sebenarnya kelewatan? Pembelaan terhadap anak itu justru membuatku makin membencinya.

Aku akan sangat bahagia jika Nida, Nika, Ammar dan Akmal mendapat nilai 80 saat ujian. Tapi, aku merasa biasa saja saat Nisa menunjukkan angka 100 di kertas ujiannya, atau saat namanya diumumkan sebagai peringkat pertama di kelasnya, bahkan saat ia memperoleh juara pertama pada olympiade matematika se jabodetabek.

Aku yang menangis tak karuan saat harus melepas Nida ke Yogyakarta dan Nika ke Bandung untuk melanjutkan kuliah, juga saat kedua jagoanku pergi menempuh pendidikan agar menjadi TNI. Namun, tak ada sama sekali air mata yang menetes saat mengetahui Nisa mendapat beasiswa dan harus pergi ke Sudan, tempat yang sangat jauh dibanding Yogyakarta dan Bandung.

Nisa memang kumasukkan ke pesantren setelah lulus SD, agar aku merasa tentram di rumah. Aku jarang menjemput Nisa dengan alasan supaya Nisa mandiri dan supaya hafalan Al-qurannya tidak terganggu. Untungnya Nisa menurut untuk tidak terlalu sering pulang, hanya Bapak dan Neneknya yang sering mengunjunginya di pesantren. Tapi, kalau Nisa sudah di rumah, rumah akan kembali ramai seperti pasar. Dia akan banyak bercerita, banyak tertawa dan banyak makan, membuatku ingin cepat-cepat mengembalikannya ke pesantren.

Walau Nisa berhasil menjadi Hafidzah di usianya yg ke 15 tahun, tapi itu tetap tak membuatku bangga kepadanya, seperti Bapak dan Neneknya yang sangat bahagia hingga meneteskan air mata. Berbeda saat aku mengetahui Nida dan Nika berhasil diterima menjadi ASN, aku sangat bahagia, tak henti-hentinya aku bercerita hingga seluruh penjuru kampung tau berita ini. Pun saat kembarku berhasil menjadi TNI aku bangga, aku jumawa. Padahal Nisa juga bekerja menjadi seorang guru di sebuah sekolah islam internasional di Jakarta dengan gaji dollar.

Nissa Rutin … (Bersambung ke hal berikutnya)

Pages ( 1 of 4 ): 1 234Next »

Berikan Ulasan Di sini