Anak Yang Tersisih Karena Miskin

Anak yang Tersisih Karena Miskin

ANAK YANG TERSISIH KARENA MISKIN 😢😢😢😢

• Tentang Saudara Miskin •
Kalo dah baca yg beginian pasti bikin mewek😭😭😭😭😭😭

“Yayah… nanti lusa kemari. Orang-orang Jakarta mau pada pulang.”

Begitu kata Emak memberi titah.

Aku paham betul maksud perkataan Emak.
Orang orang Jakarta itu adalah keluarga besar kakak lelakiku.
Mereka akan mudik kesini ke rumah emak.
Aku seperti biasa jika ada acara keluarga di rumah emak, maka akulah yang harus bertugas bersih-bersih rumah, menggiling padi, menangkap ikan di kolam, memotong berekor-ekor ayam, membersihkannya, memasak makanan untuk anak cucu cicit emak.

Kang Alimudin, kakak tertuaku seorang pejabat kepolisian di Jakarta sana.
Anak-anaknya pun terbilang sudah sukses.
Semuanya lulusan universitas terkemuka.
Karirnya pun bagus bagus.
Ada yang jadi PNS, ada yang punya travel, ada yang pengusaha, ada yang jadi juragan kontrakan.
Sungguh membuat aku takjub.

Ketika Kang Alimudin dan keluarganya datang, maka bisa dipastikan keluarga yang lainnpun datang.
Kami senang sebagai adik adiknya sebagai keluarganya karena Kakakku selalu royal pada kami.
Selalu memberi oleh oleh yang jarang kami temui di kampung.

Kang Alimudin pun memang paling senang, jika ketika dia datang adik adiknya berkumpul semua di rumah emak.

Hari ini pun tiba, 10 September 1999.
Orang-orang jakarta katanya sedang di perjalanan, dan aku telah sibuk sedari subuh.
Membersihkan rumah emak, mencuci piring-piring, mengosek kamar mandi dan menanak nasi.

“Yah, ini sudah Emak ikatkan karung padi nya. Cepat antar ke penggilingan. Takut kurang nanti berasnya.”
Suara Emak dari lumbung padi.
Semacam ruangan yang isinya berkarung karung padi hasil panen.

“Iya Mak, sebentar Yayah matiin dulu tungku”

Setelah memastikan bara api di kayu bakar mati, aku bergegas menghampiri emak.

Menjungjung sekarung penuh padi di atas kepalaku dan membawanya ke tempat penggilingan yang jaraknya sekitar 1kilo dengan berjalan kaki.

Berat dikepalaku sudah tak kurasakan. Aku sudah terbiasa.

Aku, Yayah Sopiah anak keenam dari 7 bersaudara.
Dari 7 bersaudara inilah mungkin aku anak emak yang paling tak punya.

Suamiku dulu sering merantau di kota. Menjadi tukang kredit.
Saat itu perekonomian kami tidak terlalu buruk walau masih jauh dari kata cukup.
Tapi semenjak sakit sakitan beliau pulang dan memutuskan untuk bertani.

Kami punya 3 petak sawah pemberian almarhum bapak yg tak terlalu luas.
Hasil dari bertani beberapa petak sawah itupun tak begitu menghasilkan.
Terkadang hanya cukup untuk makan.
Atau jika hasil panennya dijual untuk biaya sekolah anak anak kami, maka tak jarang kami makan singkong dengan sayur lompong.

Tapi aku berusaha untuk tak mengeluh.
Aku selalu berusaha bersyukur apapun keadaan kami.

Anak anak kami, Nurjanah kelas 1 SMP, Siti kelas 4 SD dan si bungsu Ani baru 5 tahun.
Mereka anak anak yang solehah dan mandiri.
Tak pernah mengeluh dengan keadaan orangtua mereka.

Rumah kami berjarak sekitar 2kilo dari rumah emak.
Rumah semi permanen yang dengan susah payah kami bangun.
Sebenarnya disamping rumah emak, kakak kedua dan ketigaku tinggal.
Tapi untuk urusan seperti ini emak tak berani meminta tolong kepada mereka.
Akulah yang selalu melakukannya.

Tak mengapa, karena kadang emak akan memberikanku beberapa liter beras dan sayur mayur.
Apalagi kalau ada keluarga kakakku aku pasti bakal dikasih beberapa lembar uang baik oleh kakakku ataupun anak anaknya.

Mungkin orang mengira aku pamrih.
Iya bisa jadi, karena tak kupungkiri dalam lubuk hatiku sering mengharapkannya.
Makanan yang akan aku bungkus utuh untuk aku bawa pulang.
Disantap bersama anak anak dan suamiku.

Selalu terbayang dimataku keahagiaan mereka ketika mereka makan buah apel, pir, anggur,buah buahan yang tak pernah mereka makan.
Atau mungkin gulai, sate, kue bolu dan makanan lezat lainnya.

Terbayang wajah si bungsu yang pasti melompat – lompat bahagia.

Dan untuk uang, tentu saja akan kupakai untuk bekal dan biaya sekolah anak anak.

Tak terasa bulir bening jatuh dari mataku. Mengingat anak – anakku hati ini sering koyak.
Aku ingin membahagiakan mereka.
Memberi makanan yang enak, membelikan baju tas dan sepatu yang bagus.
Bukan seperti sekarang.
Bahkan anak bungsuku hanya memakai pakaian lungsuran kakak – kakaknya. Sedangkan kakaknya sebagian pakaian lungsuran sepupunya.
Kami, kadang tak mampu membeli 1 helai baju baru setiap lebaran.

“Ceu Yayah, itu berasnya udah beres. Nah ini dedak nya”
Ucapan kang Agus pemilik penggilingan padi membuyarkan lamunanku.

“Oh iya kang, Terimakasih”

Setelah semuanya beres dan dibayar aku bergegas pulang.
Aku masih harus turun ke kolam untuk menangkap ikan dan memotong ayam.

Jarum jam sudah menunjukan pukul 2 siang.
Terdengar di halaman suara derak kerikil terlindas ban kendaraan.

Keluarga Kang Alimudin pasti sudah datang.
Di rumah emak pun sudah ramai orang, kakak – kakakku yang lain dan anak anaknya sudah berkumpul.
Hanya suami dan anak-anakku saja yang tak ada.

Mereka sedang asyik bercengkrama, tertawa sembari mencicipi masakanku.
Aku sesekali hanya tersenyum mendengar guyonan mereka.

“Kang Ali udah datang”

“Eh, Neng Dewi makin cantik”

“Abang Surya sehat?”

Terdengar suara mereka sahut sahutan.
Aku masih belum beranjak dari tungku penggorengan.
Masih sibuk goreng ikan Mas kesukaan kang Alimudin.

“Yayaah… air minum yah..” Teriak Ceu Wiwi kakak ketigaku.

“Sebentar lagi goreng ikan, takut gosong”

“Temuin dulu kang Ali nya bukan ngumpet mulu di dapur. Giliran tar bagi bagi oleh oleh aja selalu yang paling semangat”

Celetuk Maryam adik bungsuku sambil menyiapkan tatakan untuk air minum.
Aku hanya bisa menghela nafas mendengar kata-kata adikku.

Setelah semua masakan beres dan ku tata di ruang tengah aku pergi ke ruang tamu.
Dimana semua orang tengah berkumpul bercengkrama tertawa bahagia.

Ruang tamu emak yang luas cukup menampung anak cucu cicit emak yang sudah banyak itu.

” Eh Yayah, sini sini… ” panggil Kang Ali.

Dia memeluk dan mengusap kepalaku. Perlakuannya padaku, tak pernah berubah sejak kecil.

“Yayah sehat?” tanyanya

“Alhamdulillah Kang”

Tak lama ceu Santi istri kang Ali pun memelukku.
Begitu juga anak anaknya.

“Makanan udah siap Yah?” tanya emak

“Udah Mak. Ayo semuanya makan dulu. Kang Ali itu saya udah gorengkan ikan Mas kesukaan Akang.”

“Makasih ya Yah. Kamu emang selalu yang paling bekerja keras” Kata Kang Ali.

“Ya iyalah Kang. Ceu Yayah mah semangat soalnya pasti dapet oleh oleh paling bnyak dari akang. Pamrih dia mah kang.”

Lagi lagi kata kata Maryam sungguh menggores hatiku.
Walaupun dia sering berucap tajam, tapi tetap saja aku selalu sakit hati.

“Sudah sudah… ayo makan” Potong emak.

Semuanya pun berkumpul di ruang tengah dan makan bersama.
Ketika suapan kelima tiba tiba terbayang wajah anak anakku.
Di rumah mungkin mereka hanya makan telur dadar 1 butir di bagi 3, karena hanya tinggal itu yang ada di dapur.
Seketika aku sulit menelan.

“Kenapa Bi..?” tanya Dewi anak sulung kang Ali yang duduk disampingku memperhatikanku.

“Gapapa Dew” Aku tersenyum.

“Oh iya kok anak anak Bi Yayah ga pada diajak kesini sih? Tuh Dewi bawa beberapa potong baju baru buat anak anak baju bekas Kirana ma Riana yg masih bagus bagus juga Dewi bawa. Pasti pada muat deh di Nur apa Siti”

“Alhamdulillah… makasih Dew. Anak-anak ga ikut soalnya tadi yang bungsu kurang sehat. Jadi suruh Kakak-kakaknya jagain.”

“Iya biasanya kalo anak-anak si Yayah ada pasti paling cepet ngabisin makanan nya hahaha” kata Kang Burhan kakak no. 2 ku.

“Cewek cewek juga makannya pada rakus rakus. Kayak kurang dikasih makan aja.”
Sambung Kang Burhan.

“Ya mungkin emang si Wawan ga cukup kasih mereka makan. Lagian laki-laki ga berguna kayak gitu aja masih dipertahanin”

Berdesir hatiku mendengarnya.
Anak-anakku memang suka makan banyak jika di rumah emak.
Apalagi dengan lauk pauk yang enak enak.
Aku tak menegur mereka sebab kupikir tidak apa apa karena makan dirumah neneknya sendiri.
Ternyata aku keliru.

Dan untuk kang Wawan suamiku.
Aku tau keluargaku memang kurang suka padanya, karna beliau tak cukup harta.

“Ya kayak ibunya. Rakus. Nah pasti abis ini dia bungkus bungkusin semua nya buat di bawa pulang. Dah kayak mesin pembersih Yayah mah.” tambah Maryam

Tesss… air mata jatuh dengan sendirinya.

“Assalamualaikum … ”
Terdengar suara suamiku di pintu depan.

“Nah tuh panjang umur. Pasti mau ikut makan juga tuh.” Cela Maryam

“Cukup Mar” Kata kang Ali tajam

Pertahananku akhrinya jebol.
Airmata bercucuran tanpa bisa dicegah.

“Maafin Yayah Mak.. Semuanya.. Mungkin hidup Yayah mengecewakan keluarga. Maafin Yayah.”
Aku tergugu. Menangis. Tumpah sudah sesak di dada ini.

Di depan terdengar suara Ani memanggilku.

Rupanya kang Wawan bersama anak-anak.

“Maryam, Ceuceu ga tau kenapa Maryam selalu berkata pedas sama Ceuceu.
Mungkin Ceuceu banyak salah.
Maafin Ceuceu. Emak.. semuanya.. Maafin kalo Yayah dan anak2 makan banyak disini.
Maafin kami yang rakus dan kekurangan.
Maafin kalo Yayah suka bungkusin sisa sisa makanan dan bawa pulang tapi semua atas izin emak.
Iya karna kami miskin. Kami sering kekurangan makanan. Maafin Yayah.”
Aku setengah histeris.

Susana tiba tiba sangat hening.

“Emaaaakk”
Ani berteriak dan menghambur kepadaku. Aku memeluknya.

“Tadi Ani rewel pengen ke emak katanya”
Kata Kang Wawan tertahan demi melihat aku yang tengah menangis di tengah-tengah keluarga besarku.

“Yayah… ” Panggil emak lembut. Matanya berembun

“Yayah pulang dulu Mak”
Aku sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi disini.

Aku pun bangkit berdiri.
Menggendong Ani, mencium tangan Emak kemudian mengajak kang Wawan pulang.

Ampuni aku Ya allah… mungkin karena aku kurang bertawakal padaMu.

Dari kisah seseorang.

Penulis : Nai Yati

#KomunitasBisaMenulis

Berikan Ulasan Di sini