Baju Terakhir Istriku – Kenangan Terakhir Tak Terlupakan

Baju Terakhir Istriku

BAJU TERAKHIR ISTRIKU – Kenangan Terakhir Tak Terlupakan

Pagi itu selesai subuh, tergesa aku menjerang air, memanaskan opor kemarin petang.

Lalu mencuci segala perkakas kotor.

Sambil menyapu, kutengok Syifa masih terlelap memeluk boneka kesayangannya.

Segera setelah mengepel lantai, kusiapkan air hangat, di kamar mandi.

“Ratna, mandi dulu ya”

Mata sayunya terbuka.

Kupijat sebentar kedua kaki ringkihnya.

Dia mengangguk.

Pelan-pelan kubuka satu demi satu kancing bajunya.

Tubuhnya begitu kurus.

Empat bulan sejak melahirkan Syifa, mendadak separuh tubuhnya lumpuh.

Sejak saat itu tubuhnya hanya mampu tergolek di kasur.

Aku bukan tak mau mengobatinya.

Nyatanya sudah tak terhitung berapa kali kami keluar masuk rumah sakit yang berbeda.

Bahkan terapi alternatifpun pernah dijalani.

Tapi tak ada yang berubah.

Betapa kepayahan dia merasakan jarum suntik, kepayahan menelan berbagai obat yang tak terhitung banyaknya,

melihatnya muntah-muntah setelah minum ramuan membuatku tersiksa.

Ditambah keuangan kami lama-lama menipis.

Sepetak sawah peninggalan orang tuaku sudah terjual.

Kini yang tersisa hanya rumah kecil ini dan sepetak kebun di belakang rumah yang masih bisa kutanami sayuran dan sebuah kolam ikan kecil.

Semenjak itu pula, aku yang tadinya karyawan di sebuah pabrik kertas, memutuskan keluar.

Beruntung aku punya keahlian membuat perkakas dari kayu yang diwariskan alm. bapak.

Agar aku bisa merawat Syifa yang kini berusia 3 tahun, sekaligus merawat Ratna yang yatim piatu.

Bau menyangat dari sarung yang membalut tubuhnya sudah tak lagi kuhiraukan.

Kugendong tubuh kecilnya, begitu ringan. Lalu mengguyur tubuhnya yang kududukkan di sebuah kursi plastik yang telah terkelupas.

Mengusapnya dengan sabun, membersihkan setiap sela tubuhnya. Rambutnya yang menipis, kusiram shampo kesukaan dia dulu.

Sebelum menggigil, segera kusudahi mandinya.

Mendudukkannya di kursi samping ranjangnya dengan masih terbalut handuk.

Sementara aku membersihkan perlak alas tidurnya dengan kain basah.

Menaburkan sedikit bedak wangi, di atasnya.

Kemarin siang aku menyempatkan membelikan dia popok sekali pakai.

Agar hari ini aku tidak perlu mengganti sarungnya setiap kali dia buang air.

Aku juga memakaikannya baju baru warna ungu kesukaannya.

Bermotif abstrak. Sudah lama aku tak membelikan dia baju. Dan memakaikan kerudung warna senada.

Ah dia masih tetap cantik seperti dulu. Kecantikannya bahkan menurun ke Syifa.

Kuseduhkan teh manis dan kubuatkan bubur instan anak kepunyaan Syifa, karena aku tak sempat membuatkannya bubur.

Kulihat makannya sudah tak lahap. Pertanda dia sudah mulai kenyang.

“Kamu duduk dulu ya.., jangan dulu tiduran” aku mengusap sisa bubur di sela bibirnya.

Dia hanya mengangguk. Sebenarnya awal dia sakit, dia masih bisa bercakap-cakap.

Semakin lama bicaranya semakin tak jelas.

Sampai kemudian tak mampu mengucap sepatah katapun. Hanya bisa mengangguk dan menggeleng. Bahkan ketika aku bercerita panjang tentang keseharianku.

Ah, aku tak peduli meskipun dia tak merespon. Aku hanya ingin berbagi cerita padanya.

Kini saatnya kubangunkan Syifa, gadis kecil itu begitu menggemaskan.

Saat aku masuk ke kamarnya, dia sudah terjaga. Kupeluk tubuh mungilnya.

“Eh, anak ayah sudah bangun”

Senyumnya merekah..

“Ayah, Ifa mau mandi” bahasanya masih belum jelas betul. Kali ini gantian Syifa kumandikan.

Takbir masih bergema dari surau di ujung kampung.

“Ratna, aku sholat Ied dulu ya, kamu tiduran dulu”

Kurebahkan tubuhnya di ranjang yang kini sudah wangi. Dia tersenyum. Manis sekali. Kucium keningnya hangat.
Sementara tangan kecil Syifa sudah siap menggandengku.

🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

Takbir terus bergema ke seluruh sudut kampung.

Pagi ini aku tak lagi memandikannya. Aku bersimpuh di tempat ini. Disisi pembaringan Ratna.

Aku baru saja memasangkan nisan baru di makamnya.

Lima tahun sudah berlalu, tapi saat- saat membersamainya masih nampak jelas di mataku.

Sepulang sholat Ied dulu, aku menemui Ratna tengah tertidur lelap dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Sangat lelap hingga aku tak mampu lagi membangunkannya.

Baju dan kerudung yang dia pakai saat itu, benar- benar menjadi baju terakhir yang aku kenakan untuk dia.

Bumiayu, 1441 H
Selamat Hari Lebaran, kawan.
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Berikan Ulasan Di sini