Ikatan Guru Indonesia Minta Tahun Ajaran Baru Digeser ke Januari 2021

Ikatan Guru Indonesia Minta Tahun Ajaran Baru Digeser ke Januari 2021

Ikatan Guru Indonesia Minta Tahun Ajaran Baru Digeser ke Januari 2020

Simpang siur tahun ajaran baru akan dimulai pada Juli mendatang telah dibantah oleh Mendikbud Nadiem Makarim. Ikatan Guru Indonesia (IGI) meminta agar Kemendikbud menggeser tahun ajaran baru pada Januari 2021.

“Dalam kondisi ketidakpastian ini, tak banyak yang bisa dilakukan karena terjadi ketidakpastian dalam perencanaan dan kinerja dunia pendidikan kita. Ketidakpastian inilah yang memicu IGI menuntut Kemendikbud agar memberikan kepastian agar tahun ajaran baru digeser ke bulan Januari,” kata Ketua Umum IGI, Muhammad Ramli Rahim melalui keterangan tulis, Jumat (29/5/2020).

Ramli beralasan ada beberapa pertimbangan penundaan tahun ajaran baru ini hingga Januari mendatang. Pertama, guna memberikan kepastian tahun ajaran baru bergeser ke Januari akan membuat dunia pendidikan memiliki langkah-angkah yang jelas terutama terkait minimnya jumlah guru yang memiliki kemampuan tinggi dalam menjalankan pembelajaran jarak jauh atau PJJ Online.

“Data Kemendikbud yang disampaikan oleh Plt. Dirjen Dikdasmen menunjukkan lebih dari 60 persen guru bermasalah dalam PJJ karena ketidakmampuan guru dalam penguasaan teknologi. Jika penguasaan teknologi saja lebih dari 60 persen bermasalah maka bagaimana kita bisa berharap guru menghadirkan PJJ yang menyenangkan dan berkualitas?” tanya Ramli.

 

Dalam hal ini, kata Ramli Kemendikbud harus membuka mata bahwa realitas pembelajaran jarak jauh kita masih bermasalah.

 

“Dan inilah yang selama ini dikerjakan kawan-kawan IGI yang justru tak kami lihat adanya upaya Kemendikbud menuntaskan masalah rendahnya kemampuan guru melaksanakan PJJ. Dan karena itu IGI siap mengambil tanggung jawab itu dengan syarat Kemendikbud memberikan tanggung jawab itu secara resmi ke IGI,” tegas dia.

 

Menurutnya, dengan menggeser tahun ajaran baru, Kemendikbud juga bisa fokus meningkatkan kompetensi guru selama enam bulan agar di bulan Januari sudah bisa menyelenggarakan PJJ berkualitas dan menyenangkan jika ternyata Covid-19 belum tuntas.

Kedua, menggeser tahun ajaran baru menghindarkan siswa dan orang tua dari stres berkepanjangan. Jika tatap muka dipaksakan, orang tua akan stres.

“Mengapa, anaknya tak ke sekolah takut dihukum oleh sekolah, jika anaknya ke sekolah, takut tertular virus maka sepanjang hari orang tua akan stres memikirkan anak mereka.

Jika tatap muka belum dijalankan lalu dilakukan PJJ maka kasusnya sama dengan poin pertama siswa akan stres karena lebih dari 60 persen guru masih terkendala penguasaan teknologi digital yang minim,” terang dia.
Menghindari Covid-19

Sementara Itu ….

Pages ( 1 of 2 ): 1 2Next »

Berikan Ulasan Di sini