Review Sinopsis Film Lolita 1997

Film-Lolita-1997-Movie

Review / Ulasan Film Lolyta 1997 versi Ketukan Sunyi

Ungkapan itu bila saya baca dalam berbagai literatur modern (buku, foto, kutipan anak gaul Instagram) terkesan sangat mewah, penuh makna, dan menggugah jiwa-jiwa seni yang paling dalam. Sebuah ungkapan yang hanya bisa didedikasikan kepada sosok paling berharga di duniamu, tanpanya kau adalah boneka manekin yang berjuang untuk bernafas.

Kalimat favorit? Mungkin. Yah, paling tidak kalimat tersebut mendorong saya untuk menggali informasi mengenai film yang bernama

LOLITA (1997)
dir. Adrian Lyne

Keputusan yang tepat kah menonton film ini?
Sebagai penggemar buku dibanding film, saya lebih tertarik untuk membaca naskahnya terlebih dahulu sebelum menonton filmnya. Berhubung selalu kehabisan stoknya pada Big Bad Wolf entah untuk ke sekian kalinya, saya pun berniat untuk menikmatinya dalam bentuk audio-visual.

“Lo. Lee. Ta.”

Tiga suku kata yang saya asosiasikan dengan sosok seksualisasi perempuan di bawah umur. Saya mendengar istilah ini dari teman-teman jejepangan yang kerap menyebut karakter gadis atraktif (baik secara fisik maupun seksual) sebagai ‘Loli’ atau ‘Lolita’. Tidak saya duga bahwa istilah tersebut dideduksi dari literatur kontroversial ini.

Ya, persis dengan istilah tersebut, film ini mengisahkan seorang pria yang tertarik secara seksual dengan anak gadis. Seperempat film berjalan, gadis tersebut tiba-tiba berubah status menjadi anak tirinya.

Kejutan.

Beberapa teman memberi pendapat negatif mengenai film ini karena “Film ini seputar pedofilia, bukan?”

Harus saya akui, ya, film ini adalah sebuah eksposisi terhadap kehidupan seorang pria paruh baya yang mencintai seorang gadis berusia 14 tahun. Tapi apakah sedramatis itu? Ataukah seberbahaya itu?

Setidaknya film ini membantu saya mengenali karakter Mr. Humburg, tokoh utama film ‘Lolita’, lebih dari sekedar ‘Pedofil’. Dia memiliki kompleksitas psikologis yang menuntunnya pada kegiatan pedofilia tersebut.

Sinematografi yang nakal dan elegan dibalut dalam konspirasi sastrais

Mario Kassar / Pathe / Kobal / R

Secara garis besar, kisah di film ini berputar di dalam dunia Lolita dan Mr. Humburg. Dimulai dari kedatangan Mr. Humburg di Amerika dan bagaimana kesialan menuntunnya untuk tinggal di rumah Charlotte Haze dengan anak gadisnya bernama Dolores Haze.

BACA JUGA:   Mengenal Pergerakan Camera Movement dan Camera Angle

Mrs. Haze digambarkan sebagai tokoh wanita yang seduktif dengan pakaian terbuka yang kerap menggoda Mr. Humburg. Kondisi yang unik karena sayangnya, Mr. Humburg tidak memiliki ketertarikan terhadap wanita seusianya dan justru menaruh pandang kepada Dolores, atau Lo, yang diam-diam juga bersaing dengan ibunya melalui cara remajanya sendiri.

Daripada mencantumkan alur yang luwes, ‘Lolita’ justru menampilkan adegan yang lugas dan tidak bertele-tele untuk segera bergerak ke adegan berikutnya dan tidak membuang waktu dengan detil yang kecil. Hal ini tampak dari alur yang ‘tiba-tiba’ ketika Lo duduk di pangkuan Mr. Humburg tanpa berkenalan atau membangun chemistry dan meletakkan permen karet di buku Mr. Humburg.

Dan Mr. Humburg segera melahapnya.

Bagi beberapa orang, mungkin mereka kehilangan kesempatan menjelajahi kehidupan Mr. Humburg. Tapi menurut saya, hal ini bukan masalah besar karena sutradara tidak menghapus alur, melainkan hanya detil-detil kecil yang tidak berkaitan dengan film. Suasana kurang bisa terbangun, namun penonton tidak akan bertanya “Loh kok bisa?”

Lalu untuk adegan seksual: saya salah! Saya kira akan ada banyak sekali adegan eksplisit dalam film ‘Lolita’, namun ternyata adegan tersebut dikemas secara konotatif. Bisa dibilang, film ini sedikit aman bila kalian bukan penggemar adegan eksplisit seperti saya.

Atau saya menonton film yang versi non-eksplisit ya?

Bagaimanapun, film ini tidak fokus pada kegiatan seksual keduanya, melainkan bagaimana Mr. Humburg tertarik pada Lolita, kerumitan di antara keduanya karena status yang tidak jelas (Ayah atau partner seksual), serta bagaimana Mr. Humburg sebenarnya sangat lemah dan memberikan Lolita apapun yang dia mau.

Narasi dari sudut pandang tokoh pertama yaitu Mr. Humburg juga dituturkan dengan bait-bait sastraik. Menonton film ini sama seperti membaca buku harian yang ditulis dengan jujur serta mewakili bunga-bunga yang tumbuh dalam hati Mr. Humburg. Salah satu kutipan favorit saya adalah,

The key, with its numbered dangler of carved wood, became forthwith the weighty sesame to a rapturous and formidable future. It was mine, it was part of my hot hairy fist. In a few minutes say, twenty, say half-an-hour, sicher its sicher as my uncle Gustave used to say I would let myself into that “342” and find my nymphet, my beauty and bride, imprisoned in her crystal sleep. Jurors! If my happiness could have talked, it would have filled that genteel hotel with a deafening roar. And my only regret today is that I did not quietly deposit key “342” at the office, and leave the town, the country, the continent, the hemisphere,indeed, the globe that very same night.

BACA JUGA:   Mengenal Pergerakan Camera Movement dan Camera Angle

Sudut pandang mengenai tokoh utama film ini?

From: Tasteofcinema.com

Mr. Humburg: Dia adalah sosok dari apa yang kita bilang “Pelaku adalah korban keadaan”. Di awal film kita bisa melihat alasan mengapa Mr. Humburg hanya tertarik pada gadis di bawah umur. Kerap kali bertingkah kasar dan tegas, sebenarnya dia adalah makhluk paling lemah di seluruh jagad film ini. Bagaimana dia menutupi segala kelemahannya dengan sok kuat adalah bukti mabuk cinta yang ditelan oleh Mr. Humburg.

Saya tidak jarang menggertakkan gigi melihat penggambaran tokoh Mr. Humburg yang sangat ceroboh dan termakan tipu daya Lolita. Namun ketika menelaah lagi histori hidupnya, Mr. Humburg benar-benar dideskripsikan dengan baik.

Lolita: Saya memiliki bias terhadap tokoh ini. Pertama, saya sangat membenci gerak-geriknya yang ‘nakal’ dan selalu menggoda Mr. Humburg tanpa kendali. Lalu ketika dia disentuh, dia segera menarik tangan dan berteriak seolah dia telah dilecehkan. Ya, memang Lolita tidak memberi consent atau persetujuan bahwa ia dapat disentuh, namun gerak-geriknya seolah ingin mengundang saya untuk menamparnya dan berkata, “Dewasalah!”

Hingga saya tersadar dia adalah gadis berusia 14 tahun yang memang masanya untuk bermain dan bereskplorasi termasuk seksualitas.

Kedua, saya membenci peringai gadis yang manipulatif demi mendapatkan apa yang ia mau. Kenyataan di akhir cerita bahwa ia memiliki tujuan lain selama ini membuat saya geram. Selama Mr. Humburg berusaha memenuhi semua kebutuhannya, selama itu pula Lolita melakukan hal yang tanpa sadar mungkin menyakiti Mr. Humburg.

BACA JUGA:   Mengenal Pergerakan Camera Movement dan Camera Angle

Di akhir cerita, saya lebih menyukai transformasi Lolita yang lebih ‘baik’ dan jujur, terbuka, apa adanya.
Bisa dibilang, saya menikmati juga mengecam dalam waktu yang sama
Film ini indah. Ya, film ini adalah gambaran yang sangat jujur dan tidak dibuat-buat tentang relasi ‘sugar baby’ dan ‘sugar daddy’. Tidak ada kata-kata indah, gombalan, atau perasaan masif yang muncul antara keduanya. Semua semerta karena keinginan untuk memiliki ataupun memuaskan nafsu fisik semata. Bisa dibilang film ini cukup realistis, meskipun tentu ada adegan yang bombastis untuk menarik atensi.

Saya sangat menikmati latar vintage yang disajikan dalam film. Ketika Lolita memesan es krim soda ataupun mengendarai mobil di tengah pedesaan. Semua sangat natural, dan mungkin saya bisa mereplikasi itu di dunia nyata.

Namun kecaman saya lontarkan kepada film karena sudut pandang maskulin yang kental. Lolita dengan gamblang ditampilkan dengan pakaian yang seksi, menggoda, bahkan menarik perhatian lelaki. Bagaimana Mr. Humburg bertingkah layaknya raksasa (meskipun lemah) dan Lolita menangis seolah menjadi sumber kesalahan.

Selain itu, saya juga sebenarnya membenci hubungan yang dilandasi nafsu semata, sehingga bisa dibilang film ini cukup bertentangan dengan moral value yang saya anut. Seksualisasi anak di bawah umur juga dapat mendorong penonton untuk berpikir “Aku tidak sendirian, dan pasti ada anak di bawah umur yang tertarik kepadaku.” Tidak menyimpulkan film ini menjadi bibit pedofilia, namun film ini menunjukkan bahwa anak-anak di bawah umur yang menggoda pastilah seperti itu.

Boleh jadi bila Anda ada waktu, membaca novelnya terlebih dahulu. Saya mendapati ulasan yang sangat bagus di Goodreads, sehingga dalam waktu dekat saya pun juga tertarik untuk membaca novelnya. Keberanian Vladimir Nabokov menggubah kisah kontroversial namun nyata adanya di masyarakat adalah bukti sastra sebagai alat komunikasi yang jujur. Saya jadi tidak sabar untuk menikmati kisah Mr. Humburg dan Lolita dalam imajinasi yang saya bangun sendiri.

Pages ( 2 of 2 ): « Prev1 2

Berikan Ulasan Di sini