Prasangkaku tentang teman khayalan atau halusinasi hanya berjalan sehari. Setelah suatu malam, aku mendengarnya kembali bicara sendiri.
Kala itu, aku sedang bercanda ria di WA, ‘Misa Keluguan’-group kelasku. Kami membicarakan tentang teman seangkatan yang gila dan kemarin terlihat telanjang di terminal.
Juga mengutuk beberapa dosen pembimbing yang begitu lambat merespons. Tiba-tiba pintu kamar tiga puluh empat diketuk. Aku terkaget. “Boleh saya masuk?” Suara perempuan itu terdengar.
Aku pikir itu untukku. Tadinya ingin kujawab, kau salah kamar. Atau langsung saja kubuka pintuku. Namun, kudengar pintu kamar sebelah terbuka dan dia berkata lagi:
“Terima kasih”. Aku langsung menyimpan ponselku. Mencoba untuk mengupingnya. Kebetulan sekali kucing sialannya itu sedang tidak berbunyi malam ini.
Jadi aku bisa mendengar samar-samar obrolannya. Dia terkesan seperti bicara dengan seseorang. Dia menjeda ucapannya. Lalu berkata lagi. Seolah-olah bercengkerama.
“Kamu mungkin benar. Hidup bagi saya juga kurang lebih hanyalah petualangan yang nista.” Kemudian dia tertawa nyaring menyerupai dentingan gelas yang dipukul. Aku masih tetap menyimaknya sambil menatap jaring laba-laba di sudut kamarku. “Alasan yang bagus untuk hidup terkadang jadi alasan yang bagus untuk mati.
Bunuh diri adalah bentuk pengakuan bahwa hidup ini tak bermakna dan tidak bisa dipahami.”
Kurasakan tubuhku bergetar. Sepertinya, dia sedang bercakap-cakap dengan seorang lelaki yang pernah tinggal di sana. Semakin kusimak obrolannya, semakin deras keringat yang turun dari sekujur tubuhku. “Saya turut berduka atas hidupmu yang nahas.” Lampu kamarku pecah. Aku langsung berlari ke arah kasur dan mengerubungi tubuhku dengan selimut.
Kucoba pejamkan mata dan tak memikirkan apa-apa. Sejak malam itu, aku mengerti bahwa tetangga baruku ini bisa bicara dengan orang yang mati, atau dia adalah hantu.
Dan kemarin, dia kembali bicara dengan seseorang. Tepat tengah malam di pinggir kiri kamarku. Lampu telah kuganti dan aku mendekatkan kuping ke dinding. Benar-benar berniat menguping. Aku mencoba untuk memberanikan diri. Dia berkata,
“Jadi kamu masih tidak tenang? …
Saya tak bisa membantumu jika inginmu begitu …
Kamu harus membalaskan dendammu sendiri …
Tidak, tidak. Saya tak ingin mengusirmu …
Bagi saya mencoba mendamaikan hal-hal yang tidak bisa didamaikan itu sia-sia …
Bukan, saya bukan suruhan lelaki itu …”
Suara kucing mulai mengeong. Aku mendegus kesal. Meski sedikit takut, tapi aku penasaran dengan apa yang dilakukan perempuan itu. Kemudian tangis bayi terdengar begitu keras. Seketika, aku merinding. Kurasakan ada dingin yang menelusuk ke dalam kerangkengku.
Bulu kudukku langsung berdiri.
“Siapa namanya? Lucu sekali …
Boleh saya gendong? …
Saya hanya ingin berteman. Percayalah …
Kita sama-sama perempuan, jadi saya pikir kita bisa berteman …”
Suara tangis itu memelan. “Cup cup cup, dede bayi jangan nangis …”
Akhirnya suara itu pun menghilang. “Dia tidur?”
Gadis itu diam sejenak lalu tertawa.
“Saya memang lebih suka bicara pada orang mati. Orang lain adalah neraka.”
Berani-beraninya dia mengutip Sartre!
“Yang hidup terlalu banyak masalah. Terlalu banyak berpura-pura. Saya tidak suka …
Yang mati hanya punya satu tujuan. Mungkin satu dendam. Atau satu keinginan sederhana.
Setelah itu terjadi, dia akan tenang. Sedangkan yang masih hidup punya banyak tujuan, punya banyak dendam, punya banyak keinginan.
Mereka tak pernah tenang.” Pintu kamarku perlahan terbuka. Aku sontak melihat ke arah sana. Seekor kucing hitam masuk. Mengeong dengan keras.
***
Tengah malam kini … (Baca Seterusnya)
![]()
One Reply to “Cerpen: Rekuiem – karya Jein Oktaviany”