Istri Herry Wirawan Angkat Bicara Terkait Aksi Bejat Suami Perkosa 12 Santriwati Bandung, Ternyata

Istri Herry Wirawan Angkat Bicara Terkait Aksi Bejat Suami Perkosa 12 Santriwati Bandung, Ternyata

Kelakuan Herry Wirawan menyeret juga sang istri akibat kelakuannya merudapaksa santriwatinya.

Herry Wirawan tercatat sebagai pengurus sekaligus pemilik pesantren Madani Boarding School Cibiru, Yayasan Manarul Huda Antapani, dan Pondok Tahfiz Al-Ikhlas.

Istri pelaku sempat terseret oleh kasus bejat dirinya.

Sang istri juga ikut diperiksa oleh petugas.

Pelaksana tugas (plt) Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejati Jabar Riyono, mengatakan, memang ada dugaan di masyarakat soal keterlibatan istri pelaku.

Namun saat di persidangan terungkap bahwa istri pelaku tidak terlibat.

“Istrinya tidak tahu menahu aksi bejat yang dilakukan pelaku,” kata Riyono di Kantor Kejati Jabar, Jumat (10/12/2021) seperti dikutip dari Surya.

Pernyataan itu juga diperkuat oleh Jaksa Kejari Bandung Agus Mujoko.

Ia menegaskan bahwa istri terdakwa tidak terlibat dalam kasus yang menjerat suaminya.

Iklan untuk Anda: Ternyata Mata Kabur hingga Katarak Bisa Anda Hilangkan dengan Ini

“Tidak. Istrinya ini tidak terlibat. Istri tidak tahu menahu perbuatan suaminya,” ujar Agus.

Istri Herry pun dibebaskan karena tidak terlibat dalam kasus asusila tersebut.

Korban bertambah

Namun setelah kasus ini mencuat ternyata jumlah korban bertambah menjadi 21 santriwati.

Perbuatan tak senonoh itu dilakukan oleh pelaku dalam rentan waktu 2016-2021.

Selama lima tahun berbuat asusila, korban dari oknum guru ini sudah memiliki 9 anak yang dilahirkan oleh delapan santriwati yang menjadi korban.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Garut, Diah Kurniasari Gunawan menceritakan kondisi memilukan korban yang didampinginya.

Salah satu korban masih berusia 14 tahun.

Dia melahirkan dua kali.

Anak pertamanya berusia 2,5 tahun dan beberapa bulan lalu melahirkan anak kedua.

“Saya nengok ke sana (rumahnya), menawarkan (bantuan) kalau enggak sanggup merawat, ternyata mereka tidak ingin dipisahkan anaknya, dua-duanya perempuan,” kata Diah.

Setelah melahirkan, dia pun menawarkan bantuan jika orang tuanya tidak sanggup mengurus.

Namun, orang tuanya mau mengurusnya.

“Setidaknya, mereka sudah menerima takdir ini, nanti saya berencana mau nengok juga ke sana,” katanya.

Kasus ini, menurut Diah, sangat menguras emosi semua pihak.

Apalagi saat dilakukan terapi psikologi terhadap anak-anak dan orangtuanya yang dilakukan tim psikolog P2TP2A.

“Sama, kami semua juga marah pada pelaku setelah tahu ceritanya dari anak-anak, sangat keterlaluan, kita paham bagaimana marah dan kecewanya orang tua mereka,” kata Diah.

Menurut Diah, P2TP2A menawarkan berbagai solusi kepada anak-anak dan orang tuanya terkait posisi anak yang dilahirkan dari perbuatan cabul guru ngajinya.

Bahkan, jika para orang tua tidak mau mengurusnya, P2TP2A siap menerima anak tersebut.

Karena, para orang tua korban, menurut Diah, bukan orang-orang yang tergolong mampu.

Mereka, kebanyakan adalah buru harian lepas, pedagang kecil dan petani yang tadinya merasa mendapat keuntungan anaknya bisa pesantren sambil sekolah gratis di pesantren tersebut.

“Alhamdulillah, yang rasanya mereka (awalnya) tidak terima, namanya juga bayi, cucu darah daging mereka, akhirnya mereka rawat, walau saya menawarkan kalau ada yang tidak sanggup, saya siap membantu,” katanya.

Artikel ini telah tayang di Sripoku.com dengan judul Kena Getahnya, Istri Herry Wirawan Berani Terus Terang soal Kelakuan Suami, Korban Bertambah,

 4,014 total views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *