arti Cinematografi

Cara Membuat Film Pendek untuk Pemula di Android dan iPhone

Cara Membuat Film Pendek untuk Tugas Sekolah di Android

Selamat datang di blog MindaFilm.com. Salam kenal dari saya, sesama pencinta film dan punya cita-cita profesi filmmaker.

Sebenarnya blog ini bukan blog pertama saya seputar produksi film. Sebelumnya saya juga sudah memiliki blog lain yaitu MindaStudio.com, namun tidak spesifik membahas produksi film pendek.

MindaFilm.com membahas macam-macam, bahkan justru sedikit tentang dunia film secara apalagi review film-film terbaru, hampir nggak ada.

Baru pada blog inilah saya bermaksud fokus pada pembahasan seputar cara membuat film pendek.

Kenapa demikian?

Sebab pada kenyataannya dunia film pendek saat ini dapat dikatakan sedang booming dimana-mana.

Kursus-kursus produksi film pendek dibuka dimana-mana, UKM-UKM film juga ada di banyak universitas dan lembaga pendidikan tinggi lainnya, bahkan sudah ada SMK yang mengkhususkan diri di bidang multimedia.

Lebih dahsyat lagi, seorang teman saya bahkan mengajar ekstrakurikuler pembuatan film di sekolah-sekolah dasar!

Perkembangan yang sangat menggembirakan, namun sekaligus juga membuat saya iri. Mengingat hal ini tidak/belum terjadi di masa saya SMA & kuliah dulu di dekade 90an (ketebak deh umur saya 😅),

Masa dimana saya sedang semangat-semangatnya ingin mendapatkan ilmu membuat film. Ingin kuliah di jurusan perfilman.

Apa daya, orang tua tak mengizinkan saat saya ingin kuliah film di fakultas film dan pertelevisian di IKJ (Institut Kesenian Jakarta), sebagai nyaris satu-satunya lembaga pendidikan film di Indonesia.

‘Kuliah di IKJ, mau jadi apa?’, demikian kira-kira perkataan ayah saya waktu itu.

Ya, saya juga tidak bisa terlalu menyalahkan anggapan beliau saat itu, mengingat pada zaman itu dunia perfilman nasional sedang mati suri.

Hanya film-film ‘esek-esek’ yang sedang menjamur dengan poster-poster vulgar di bioskop-bioskop. TV swasta pun belum begitu berkembang.

Eh.. jadi curhat deh.. maaf ya 😋

Alumni IKJ pun hanya sedikit terdengar gaungnya sebagai profesional yang mapan secara ekonomi. Belum lagi alat produksi film atau, minimal, video yang masih mahal.

Alhasil guna menyiasati hasrat menjadi filmmaker, saya harus puas belajar film secara otodidak, serta melalui kursus-kursus yang mengkhususkan diri pada 1 bidang tertentu (bukan satu kesatuan ilmu-ilmu perfilman seperti di jurusan film).

Termasuk dengan merogoh saku pribadi untuk membuat film sendiri, mencari pengalaman sendiri, menerapkan teori dengan semangat ‘gerilya’.

Namun itu semua telah begitu banyak berubah pada saat ini.

Festival-festival film begitu banyak, beberapa diantaranya bahkan festival khusus film pendek. Institusi-institusi pendidikan film lebih banyak didirikan, jurusan-jurusan film semakin banyak dibuka di banyak universitas.

Kelompok-kelompok (klub atau komunitas) pecinta dan penggiat film muncul di banyak tempat. Peralatan produksi video pun semakin murah dan mudah didapat.

Walaupun belum begitu terasa imbasnya terhadap kemajuan industri perfilman nasional, tetapi semoga ini merupakan sinyal positif bagi lahirnya sineas-sineas generasi baru yang produktif menghasilkan karya dengan kualitas yang baik.

Merupakan lahan yang sangat baik bagi insan-insan peminat perfilman untuk berlatih. Mengasah keahlian dan menuai pengalaman dalam berkarya.
Belum lagi dukungan pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan, yang semakin nyata.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Pusat Pengembangan Perfilman, menyediakan dana untuk memfasilitasi produksi film pendek yang mengandung nilai budaya, kearifan lokal dan mencerminkan karakter bangsa.

Sungguh membangkitkan semangat dan harapan..

Blog ini hadir dalam semangat dan harapan tersebut.

Berharap menjadi lahan bagi saya dalam berbagi ilmu dan pengalaman seputar pembuatan film pendek, dengan harapan semoga bisa menjadi manfaat bagi banyak orang.

BACA JUGA:   Cara Edit Pas Foto 3x4, 4x6, di Microsoft Word

Tentu tak semua artikel disini adalah karya saya semata.

Sebagian adalah kutipan maupun terjemahan dari karya orang lain, yang penulis cuplik bukan dengan niat untuk mencontek atau mencuri, melainkan dengan maksud untuk menyajikan informasi yang selengkapnya kepada pembaca.

Untuk itulah sedapat mungkin penulis menyertakan sumber tulisan, di bagian akhir setiap artikel.

Oya, sebelum terlanjur banyak berbusa-busa, mungkin ada baiknya saya jelaskan dulu sedikit tentang diri saya.
Saya biasa dipanggil Alfa, seorang filmmaker indie yang sudah membuat sebanyak 4 film pendek:

– Balada Perantau (2010)
– Harga Mati (2011)
– Bulan Madu (2013)
– Terjebak (2013)

Salah satu diantaranya yang berjudul ‘Harga Mati’, memenangi penghargaan sebagai film terbaik kedua di Annida Indie Movie Festival (AIMFEST).
Pada semua film tersebut saya memegang beberapa posisi sekaligus. Pada 3 diantara 4 film saya berperan sebagai produser, penulis skenario, sutradara, dan penyunting gambar atau editor, bahkan figuran.

Sedangkan pada film ‘Bulan Madu’ saya berperan sebagai sutradara dan penyunting gambar.

Saya telah mengikuti beberapa pelatihan, kursus dan seminar seputar cara membuat film pendek.

Saat ini profesi utama saya adalah sebagai video editor di sebuah stasiun televisi swasta nasional, dimana saya telah menekuni profesi itu selama sekitar 10 tahun.

Saya juga menulis skenario film panjang (sayang, belum pernah laku dibeli produser 😅) serta menjadi penulis kontributor artikel di beberapa blog.
Demikian sedikit perkenalan saya, semoga bisa membuat Anda tidak ragu membaca blog ini.

Sebab walaupun belum bisa dikatakan ahli, paling tidak saya memang mempunyai minimal sedikit ilmu dan pengalaman yang relevan untuk membahas seputar cara membuat film pendek.

Cara Membuat Film pendek Untuk Pemula

Seperti saya singgung sedikit diatas, saat ini bahkan anak SD sekalipun sudah bisa membuat film (!). Tentu dengan bantuan orang dewasa seperti guru atau mentor.

Namun paling tidak, mereka sudah tahu tentang cara menggunakan media perekam seperti ponsel pintar atau smartphone untuk bercerita.
Sebenarnya memang membuat sebuah film atau bercerita dengan menggunakan film sebagai media, tak selalu serumit dan sekompleks seperti yang kebanyakan orang pikirkan.

Apalagi dengan semakin mudahnya kita mendapatkan kamera video yang tersemat di perangkat smartphone, yang kian hari kian memasyarakat disebabkan harganya yang terjangkau.

Masalahnya ada pada definisi Anda tentang film itu sendiri.

Bila pengertian Anda tentang film adalah film layar lebar yang diputar di bioskop, tentu pembuatan film memang sebuah proses yang rumit, kompleks dan membutuhkan biaya yang sangat besar.

Namun yang saat ini populer di kalangan penggiat film pendek, yang dimaksud film adalah juga termasuk video yang direkam secara digital. Untuk ‘film’ jenis ini, proses pembuatannya relatif jauh lebih mudah. Juga lebih murah.

Anda tinggal membuat sedikit perencanaan, berakting atau mengarahkan akting sedikit orang, lalu rekam aksi tersebut dengan fitur kamera pada ponsel Anda, maka jadilah sebuah karya audio visual yang serupa dengan film.

Cukup sederhana, dan menghabiskan biaya yang sangat sedikit bila dibandingkan dengan film profesional.

Namun begitu seperti kata pepatah ‘ada harga ada rupa’, begitu pula dengan pembuatan film pendek.

Semakin besar biaya produksi yang tersedia untuk dipakai, maka biasanya semakin baik pula kualitas filmnya.

Khususnya bila bersamaan dengan biaya tersebut, semakin besar pula kesungguhan semua orang yang terlibat didalamnya.

Mengenai perencanaan yang saya maksud diatas, mencakup minimal pembuatan 3 hal:

– Desain Produksi

Mencakup cerita dan breakdown (perincian) segala unsur cerita tersebut seperti deskripsi karakter dan setting lokasi, penentuan mekanisme casting pemain, penentuan kru, penentuan alat syuting, sampai penentuan jadwal kegiatan dari Pra Produksi, Produksi hingga Pasca Produksi

BACA JUGA:   Curhatan Fotografer yang Kesulitan Memotret Momen Pernikahan

– Skenario
– Perencanaan Anggaran

Peralatan Untuk Membuat Film Pendek

Film pendek bisa dibuat dengan peralatan yang seadanya. Tentu tak berarti bahwa film jenis ini tak mementingkan kualitas.
Seadanya maksudnya, jangan sampai keterbatasan biaya membuat para filmmaker indie tak bisa berkarya.

Para insan filmmaker indie, biasanya mereka yang masih berstatus pelajar, banyak yang menggunakan kamera ponsel untuk berkarya. Yang mempunyai anggaran sedikit lebih, biasanya menggunakan kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex) atau kamera mirrorless, yang kini begitu populer.

Sementara peralatan lain biasanya disewa dari perusahaan rental audio visual yang biasanya menjadi langganan para videografer pernikahan.
Atau membuat sendiri dengan bahan-bahan sederhana.

Persoalan membuat film pendek sekarang memang lebih ke arah manajemen waktu dan kemauan menyisihkan sedikit uang dan sumber daya lainnya, bukan kepada kesempatan berkarya. Sebab kesempatan kini terbuka begitu lebar dimana-mana.

Oh ya, bagi Anda yang belum tahu perbedaan antara film indie dengan film pendek, perbedaannya adalah bahwa film indie atau independen itu adalah film yang dibuat tanpa naungan badan usaha resmi seperti PT atau CV.

Namun film indie tidak selalu berupa film pendek.

Banyak juga film indie yang berupa film panjang.

Membuat Film Pendek Dengan Kamera Hp

Sejak beberapa tahun yang lalu, sebagian besar ponsel yang beredar di pasaran sudah dilengkapi dengan perangkat kamera video.
Bahkan sebagian ponsel dilengkapi 2 kamera, satu di depan (untuk keperluan swafoto atau selfie) dan 1 dibelakang. Kualitasnya pun membaik, seiring semakin naik dan lengkapnya spesifikasi ponsel.

Kini di tahun 2016, kualitas kamera terbaik berada di 23 megapixel, yang tersemat antara lain di ponsel Sony Xperia Z5.
Namun tak harus dengan spesifikasi setinggi itu. Kamera dengan resolusi 5 Megapixel pun menurut penulis sudah bisa untuk membuat film pendek yang cukup layak tonton.

Apalagi dengan dukungan tata cahaya yang baik dan the man behind the gun (alias orang yang mengoperasikan) yang ahli, film yang dihasilkan dari kamera dengan spesifikasi ini sudah bisa bersaing di festival-festival film pendek.

Adapun spesifikasi lain yang umum dipakai untuk video:
– Rasio 16:9
– Format High Definition atau HD (minimal 720P), atau 1280 x 720P.

Dengan format diatas, film Anda nantinya akan familiar bagi situs berbagi video seperti Youtube & Vimeo, yang sering dipakai sebagai sarana untuk mempromosikan karya film pendek.

Pembahasan lebih lanjut mengenai cara membuat film pendek menggunakan kamera Hp ini dapat Anda baca disini.

Software Untuk Membuat Film

Perangkat lunak atau software untuk membuat film ada beberapa jenis. Yang paling umum ada software untuk penulisan skenario, editing video, untuk mengolah audio, dan untuk pewarnaan atau color grading.

Software untuk menulis skenario ada Celtx, Final Draft, dsb.

Software editing contohnya Windows Movie Maker, AVID Media Composer, Final Cut Pro, Adobe Premiere, dsb.
Software pengolah audio contohnya Adobe Audition, Audacity, Sony Sound Forge, dsb.
Software untuk color grading contohnya DaVinci Resolve, Nucoda Film Master, Quantel Rio, dsb.

Ada juga Video Audio Converter. Yaitu software untuk mengubah suatu jenis file video/audio ke jenis file video/audio yang lain.
Contohnya adalah MPEG Streamclip dan Wondershare Video Converter.

Software converter ini penting, disebabkan beda software editing biasanya beda pula jenis file yang bisa diedit di software tersebut.

BACA JUGA:   Sakit Hati Direndahkan Jelang Pernikahan, Keluarga Anovial Bongkar Tabiat Buruk Atta Halilintar: Kami Tak Peduli Pernikahan Atta!

Sebagai contoh, file audio AIFF cocok untuk software Final Cut Pro, tetapi untuk software Adobe Premiere jenis file audio yang cocok adalah Mp3.
Sistem kompresi Apple ProRes sangat cocok untuk file-file yang hendak diedit di Final Cut Pro, tetapi justru pernah merupakan pantangan bagi file-file yang hendak diedit di Adobe Premiere, misalnya.

Saya katakan pernah, sebab Adobe Premiere Pro CC versi 11 sudah bisa memproses file dengan codec Apple Pro Res.

Cara membuat Film Pendek Di Android

Membuat film pendek (mengedit video yang direkam dengan menggunakan kamera ponsel) lebih nyaman dilakukan di komputer. PC, atau laptop.
Layar luas komputer memungkinkan kita untuk mencermati video secara lebih detil, dan kontrol yang lebih baik atas tool-tool editing.

Namun bilamana Anda pembaca mengalami kendala tertentu sehingga tak bisa mengedit di komputer, dapat pula mengedit video langsung di ponsel.
Caranya dengan menggunakan software seperti VideoShow, VidTrim atau InShot. Semuanya bisa anda unduh di Play Store secara gratis.

Untuk merekam audio, Anda bisa gunakan perekam suara dan Audio Recorder and Editor.

Adapun mengenai teknis penggunaan alat produksi, baik hardware maupun software, semuanya bisa didapat tutorialnya baik melalui buku yang disertakan saat pembelian, maupun di internet.

Begitupun hal-hal lain diluar alat seperti pembuatan desain produksi, storyboard, skenario, penyusunan anggaran, pelatihan akting pemain, penyutradaraan, pembuatan laporan produksi hingga pemasaran film.

Bahkan sampai cara pencarian sponsor dan penggalangan dana dari masyarakat atau crowdfunding.

Semua bisa dipelajari melalui banyak sumber. Internet salah satunya, dengan begitu berlimpahnya situs yang membahas seputar filmmaking ini.
Baik yang membagi ilmu dengan gratis, maupun yang berbayar melalui e-book. Tentu tak semua ilmu itu tepat guna.

Mungkin banyak yang harus disesuaikan bila hendak diterapkan di negeri ini, yang memiliki keadaan khas yang berbeda dengan keadaan tempat si pemilik situs yang memberikan informasi.

Memang idealnya, untuk menjadi filmmaker atau minimal mengetahui cara membuat film pendek yang baik sebaiknya kuliah di fakultas film.
Menimba ilmu dari para akademisi dan praktisi melalui kurikulum yang dirancang cermat untuk mendidik para mahasiswanya menjadi pemikir sekaligus praktisi perfilman dan/atau pertelevisian.

Lalu setelah lulus, magang di rumah-rumah produksi film.

Baru setelah beberapa tahun dapat menyutradarai film sendiri, atau setidaknya menjadi head crew dari suatu posisi dalam produksi film.
Namun patut diingat, tak semua orang yang tertarik mendalami dunia film, memiliki akses ke lembaga-lembaga pendidikan formal seperti itu.

Saya sendiri cukup terkejut saat berbagi cerita dengan beberapa teman, ternyata cukup banyak juga yang mengalami nasib seperti saya: ingin bersekolah di jurusan film, tapi tidak terlaksana.

Jadi rasanya peribahasa ‘seribu jalan menuju Roma’, atau yang serupa dengan itu, ‘tak ada rotan akarpun jadi’, harus rela ditempuh oleh orang-orang dengan nasib serupa saya tersebut.

Seperti telah dijelaskan, semakin berkembangnya dunia perfilman indie telah membuka kesempatan bagi siapapun yang berminat, untuk terjun kedalamnya. Apapun latar belakang mereka, apapun profesi yang sedang mereka jalani saat ini.

Rekan pembaca, demikian perkenalan saya dan sekilas mengenai cara membuat film pendek serta perkembangan dunia film pendek.
Penjelasan lebih lanjut mengenai pembuatan film pendek tersebut, silahkan baca di artikel-artikel lain dalam blog ini.

Terima kasih, dan semoga bermanfaat.. 🙏🙏
Berikut ini video singkat tentang cara membuat film pendek:

 10,600 total views,  1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *