Kisah Anisah, Guru dengan Gangguan Jiwa Skizofrenia

Stigma negatif terhadap penyakit gangguan jiwa skizofrenia sepatutnya harus dihilangkan dari pikiran masyarakat. Hal ini karena pengucilan bukannya membantu pengidap untuk menyembuhkan penyakit namun malah memperkeruh keadaan membuat seseorang sulit terbuka dan mengakui dirinya butuh bantuan.

Siti Anisah (43) adalah salah satu pengidap skizofrenia. Ia bercerita pengalamannya berkutat dengan skizofrenia membuat dirinya kewalahan dan karena ada stigma negatif ia sempat mengelak mengakui diri untuk menjalani pengobatan medis. Keluarga bahkan sempat membawa Anisah ke pengobatan alternatif untuk mengobati sikapnya yang tidak karuan karena penyakit pengganggu pola pikir ini.

“Waktu itu umur saya masih 20 tahun di tahun 1992. Awalnya gara-gara stres enggak siap ujian keadaan diri saya mulai terasa aneh. Sebelumnya saya tidak percaya saya gangguan jiwa, dulu saya pikir saya kena dukun karena rasanya kan aneh seperti itu,” kata Anisah pada seminar media Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Puri Denpasar Hotel, Jakarta, seperti ditulis pada Selasa (29/9/2015).

Setelah setahun berkutat dengan penyakit tanpa pengobatan halusinasi-halusinasi yang dirasakan Anisah semakin parah dan ia pun tak melanjutkan kuliahnya. Keluarga akhirnya membawa Anisah ke psikiater dan obat pun diresepkan.

“Cuma waktu itu karena kurangnya pengetahuan orang tua tak mengingatkan untuk minum obat teratur. Penyakit saya bukannya pulih malah tambah parah, kalau dipaksa minum obat saya pernah sampai ingin cekek ibu saya. Akhirnya saya dikasih obat yang tetes, jadi saya diberi obat tanpa sepengetahuan saya,” lanjut Anisah.

Perlahan kondisi mentalnya stabil dan ia pun bisa berinteraksi normal seperti biasa. Ia pun memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikannya yang tertunda dan menyelesaikan diploma satu pendidikan guru taman kanak-kanak (PGTK).

Selama 23 tahun Anisah menjalani pengobatan dan sudah 10 tahun ia mengajar sebagai guru privat dan guru di lembaga kursus. Ia membuktikan bahwa meski dengan penyakit mental seseorang tetap bisa berfungsi layaknya anggota masyarakat normal bila diberikan pengobatan yang tepat.

“Sampai sekarang saya masih minum obat. Masalah penyakit jiwa jangan dianggap penyakit momok memalukan atau jadi penghinaan. Hilangkan stigma supaya pengidap serta keluarganya tak takut terbuka dan segera mendapat perawatan,” pungkas Anisah.

 4,039 total views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *