Menurut Osneti, ia rapid tes di Bandara Internasional Minang Kabau (BIM) sebelum berangkat ke Jakarta. Ia juga tidak menyadari bahwa hasil rapid tes itu hanya berlaku selama tiga hari sejak dites.
“Saya sama anak tes sebelum berangkat, berarti tanggal 6 Januari. Pas mau berangkat ke Pontianak, ternyata hasil tes saya ini tidak berlaku lagi, karena hanya berlaku tiga hari,” ucapnya.
Untuk rencana perjalanan ke Pontianak, jelas Osneti, ia sudah berada di pintu keberangkatan Bandara Internasional Soekarno Hatta. Ia datang bersama anak dan dua orang keluarganya yang ada di Jakarta.
Karena hasil rapid tes sudah kedaluwarsa, Osneti dan keluarganya dianjurkan untuk tes swab, dengan hasil keluar dua hari. Namun, ia memutuskan untuk membatalkan keberangkatan.
“Dianjurkan tes swab, biayanya Rp800 ribu, setelah tes swab, kata petugas baru bisa kita berangkat. Tapi, itu percuma saja, pestanya juga sudah usai,” kata Osneti.
Setelah batal berangkat, Osnetipun mengaku terkejut mendengar pesawat yang akan ia tumpangi itu hilang kontak di sekitar perairan Kepulauan Seribu.
“Syukur, ada hikmahnya tidak jadi berangkat. Saya kaget mengetahui pesawat itu hilang kontak. Saya sujud syukur dan menangis mengetahui peristiwa itu,” imbuhnya.
Osneti berharap semua penumpang Sriwijaya Air dapat ditemukan dalam keadaan selamat. “Ini sudah suratan dari Allah, mudah-mudahan semuanya selamat,” harapnya.
Atas peristiwa itu, Osneti mengaku trauma untuk naik pesawat. Bahkan, Osneti mengatakan akan menetap untuk sementara waktu di Jakarta.
Baca juga: Pilot Sriwijaya Air SJ 182 yang Hilang Kontak Berasal dari Sungai Jambu Tanah Datar
“Belum tau lagi pulang (ke Padang) kapan, mungkin tiga hari ini. Pulangnya juga belum tahu naik apa,” katanya. [zfk]
Artikel Asli: https://padangkita.com/cerita-calon-penumpang-sriwijaya-air-asal-padang-pariaman-yang-batal-berangkat-karena-surat-rapid-tes-kedaluwarsa/
![]()