Menafkahi tanpa Harus Menikahi

Berburu Janda Miskin untuk Dinafkahi, Tapi ….

Tok, tok, tok. Assalsmusksikum. “Waalaikumsalam,” sahut seorang wanita dari dalam sebuah rumah reot yang lebih mirip sebuah gubuk di sebuah kampung di kawasan Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat, akhir pekan kemarin.

Pintu rumah dibuka, tampak sosok wanita setengah baya yang masih terlihat cantik dengan wajah khas wanita Sunda. Wanita yang dipanggil Teteh ini, kira-kira berumur 66 tahun dan merupakan seorang janda yang hidup sendiri di gubuk berlantaikan tanah dan beratap rumbiah.

Tamu dari Sekolah Relawan Depok yang dipimpin Roel Mustafa pun dipersilakan masuk. Terjadi perbincangan hangat, Roel bersama 10 relawan menyampaikan keinginan membantu memberikan kebutuhan sembako yang dibawanya untuk kebutuhan selama satu bulan.

Bantuan sembako tersebut berupa lima kilo beras, satu kilogram gula pasir, garam, lima liter minyak goreng, minyak tanah, satu kilo telur dan beragam sayur-mayur.

Tentu, Teteh senangnya bukan main. Dengan mata ‘berkaca-kaca dan sempat menetes berucap terima kasih atas bantuan yang tak terduga itu.

“Ini program bentuk kepedulian kami dari para aktivis dari Sekolah Relawan Depok,” ujar Co Founder Sekolah Relawan Depok, Roel Mustafa saat berbincang-bincang di Sekretariat Sekolah Relawan Depok, Jalan Sawi, Perumnas Depok Utara, Beji, Depok, Senin (30/10).

Menurut Roel, di wilayah Bogor, seperti di Leuwiliang, Desa Ciburayut Kecamatan Cigombong, Desa Sukaharja dan Kecamatan Sukamakmur banyak terdapat janda. Desa-desa tersebut pun dikenali sebagai kampung janda.

BACA JUGA:   Tips Dapat No HP Janda Cari Jodoh Sederhana 2021

Di kampung janda tersebut, saat siang hari, aktifitas warganya lebih didominasi oleh para perempuan dan anak-anak. Ibu-ibu mengenakan daster, terlihat asyik mengobrol di warung, atau di depan rumah mereka.

Banyak wanita muda, apalagi wanita tua sudah tidak memiliki suami karena suaminya meninggal, atau karena cerai.

Faktor kemiskinan menjadi menjadi kampung janda tersebut kerap dijadikan objek bagi lelaki pemburu janda untuk menikahi para janda muda yang cantik di kampung janda tersebut.

Biasanya pernikahan hanya pernikahan siri dan ada juga pernikahan berlangsung mut’ah atau menikah hanya sesaat.

Di kampung janda, jarang terlihat anak-anak laki-lakinya yang sudah besar, karena sebagian besar sedang bekerja di galian pasir, di atas bukit. “Prihatin dengan banyaknya keberadaan janda miskin di kampung janda terutama di Leuwiliang, Bogor, kami berinisiatif memburu dan membantu para janda lansia yang miskin,” ujar Roel.

Sekolah Relawan Depok menargetkan 1.000 janda lansia dan miskin untuk diberikan bantuan dan kasih sayang,” ungkap Roel yang kadang juga akrab dipanggil Pak Mustafa.

Menurut Roel, sejak satu tahun terakhir, pihaknya mencari para janda tua bersama dengan teman-temannya di Sekolah Relawan. Mereka datang ke rumah-rumah janda untuk memberikan bantuan sembako dan mendengarkan curahan hati para perempuan yang tak lagi bersuami itu dan yang diutamakan janda-janda miskin.

BACA JUGA:   Guruku Istriku, Tak Peduli Beda Usia 14 Tahun, Pria Ini Nikahi Gurunya Sendiri Yang Dia Kenal Sejak Kelas 1 SMP

“Beriringan dengan kegiatan saya di Sekolah Relawan yang sering blusukan, alhamdulillah saya sering ketemu dhuafa-dhuafa janda yang memang yang harus dibantu. Janda-janda sudah sekitar 300 orang dan saya berpikir saya punya target, mudah-mudahan bisa nyantunin 1.000 janda,” tuturnya.

Banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup

Janda-janda yang dibantu Sekolah Relawan Depok itu tersebar di beberapa wilayah, mulai dari Depok, Bogor, Jakarta, dan Bekasi. Lalu, Lampung, Nganjuk, Surabaya dan Semarang

Janda yang dibantu bukan sembarang janda, rata-rata usianya sudah di atas 65 tahun. Para janda itu tidak butuh lipstik atau bedak, mereka hanya butuh sembako dan kasih sayang dari orang sekitar.

“Ketika kami datang ke rumahnya, kita ajak becanda, kita ajak ngobrol, mereka bahagia, mereka senang,” ucap pendiri Sekolah Relawan Depok yang kini memiliki anggota relawan hampir 100 relawan.

Diutarakan Roel, para janda itu rindu berbincang dengan anak-anak mereka. Namun kebanyakan dari anak mereka tidak peduli dengan orang tuanya. Kedatangan para relawan begitu dirindukan oleh para janda karena memberikan kebahagian bagi mereka.

“Mereka rindu ngobrol sama anaknya, ngobrol seperti keluarga, itu kan nggak pernah mereka lakukan lagi. Mereka kita kasih sembako saja mereka mau, bahagia, senang banget,” tuturnya.

BACA JUGA:   Pesan Memilukan Komandan KRI Nanggala Letkol Heri Oktavian Sebelum Gugur Doakan Kami

Dari sekian banyak janda yang ditemui, ada pengalaman yang membuat hatinya pilu. Dia melihat para janda harus banting tulang memulung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal tubuh renta mereka sudah tidak harusnya bekerja keras dari pagi hingga malam hanya untuk mencari sesuap nasi.

Sekolah Relawan kemudian memberikan bantuan modal untuk mereka. Ada yang berjualan gorengan, mengemas kue lemper, berjualan nasi uduk hingga sate, sesuai dengan keahlian yang mereka miliki.

“Orang serenta mereka membuat saya sedih kalau lihat ada di jalanan. Akhinya saya dampingi, saya tanggungi, lama kelamaan ketika sudah kenal, baru kita modalin hingga akhirnya mereka berhenti memulung,” tutur Roel yang juga pengusaha restoran.

Lewat aksi Sekolah Relawan peduli janda lansia dan miskin diharapkan akan semakin banyak janda tua dan miskin yang dibantu, bukan hanya janda-janda muda yang diberi perhatian dan kasih sayang.

“Banyak lelaki-lelaki yang mapan, banyak pria-pria yang sudah punya uang berlebih, tetapi hanya suka menyimpan janda-janda muda. Saya pengin menginspirasi, kenapa enggak janda tua yang mereka simpan, nggak janda tua yang mereka kasih nafkah,” gugat Roel.

Akhirnya, Roel menulis, sebagai Lelaki 1.000 Janda dengan tagline menafkahi tidak harus menikahi. Dan, tagline itu juga tertera di Sekolah Relawan Depok, “Menafkahi tidak harus menikahi”.

 17,491 total views,  9 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *