Cerpen Rekuiem - karya Jein Oktaviany

Cerpen: Rekuiem – karya Jein Oktaviany

Tetangga baruku bisa bicara dengan orang mati. Aku meyakini itu ketika sedang khidmat membaca buku The World as Will and Representation untuk bahan skripsi.

Tiba-tiba telingaku menangkap suaranya sedang bercakap sendiri di kamar sebelah. Sudah beberapa kali dalam empat hari berturut-turut aku memergokinya.

Anak yang Tersisih Karena Miskin – Sebuah Cerpen

Aku langsung menutup buku dan melihat jam di meja dekat kasur. Dua belas, nol nol. Setelah itu, aku mencoba menguping percakapannya dengan mendekatkan kepala ke dinding antara kamarku dan kamar sebelah.

Aku tinggal di kamar tiga puluh tiga. Di lantai ini, hanya ada lima ruangan. Tiga puluh satu sampai tiga puluh lima.

Bersusun dari kiri ke kanan. Sejak empat hari yang lalu, gadis itu menempati tiga puluh lima. Sisanya adalah kamar kosong. Atau, lebih tepatnya: tak ada manusia hidup yang tinggal di sana.

Pada hari pertamanya, perempuan tersebut begitu bising mengangkat-angkat barang. Awalnya, aku ingin membantu. Namun, aku kurang suka bekerja seperti kuli.

Selain itu, aku takut dia mengira yang bukan-bukan. Jadi aku hanya memasak mie instan sambil merasakan getaran dinding yang dipalu, bunyi kardus yang dilempar, atau suara dirinya yang mengaduh kelelahan.

Baru ketika malam hari, berbenah itu selesai. Saat itu cuaca sedang hujan. Petir beberapa kali menyambar.

Aku yang sedang istirahat dari mengetik skripsiku tiba-tiba menyadari bahwa ada suara kucing dari arahnya. Mungkin tetanggaku membawa peliharaan.

BACA JUGA:   Kembalikan Senyum Dede Ridho Ramadhan

Kurasa ini waktu yang tepat untuk mencoba berbasa-basi, menawarkan secangkir kopi, sembari bertanya siapa namanya.

Namun, ketika aku mendengar lebih saksama, dia sedang bergumam. Kupikir, dia sedang menelepon seseorang.

Suaranya yang bercampur derau rintik cukup menenteramkan. Membuatku tak lagi merasakan suram yang mencekam.

Di lantai ini, sunyi telah menjadi rutinitas. Biasanya hanya terdengar jangkrik bernyanyi, geraman pompa air, atau cuitan angin kenyang yang membuat jemuran bergoyang.

Jadi, aku bisa mendengar bahwa dia sedang bicara di ujung kamarnya.

Namun, aku kurang bisa memastikan apa yang dibahas, karena jarak kamar kami yang terhalang.

Lagipula, bunyi mengeong jadi kemusykilan sendiri bagi telingaku untuk mendengar bisik-bisiknya yang menyerupai sebuah ritus.

Jujur saja, saat itu aku sedikit senang dengan kehadiran tetangga baru dan kucingnya. Aku berharap mereka bisa mengaburkan sepi yang terbiasa hadir.

Sudah dua tahun aku sendirian di lantai tiga. Aku memilih kos-kosan ini karena yang sebelumnya kurang membuatku nyaman plus terlalu mahal.

Waktu itu, hanya tersisa beberapa kamar di paling atas. Sudah disediakan kasur, lemari, meja dan kipas angin.

Pemandangannya cukup menarik bagiku: di depan penuh dengan jemuran, di belakang terlihat genteng-genteng dari atas.

Yang terpenting, kamar mandinya di dalam. Karena aku tak masalah harus turun dan naik tangga, jadi aku menyanggupi.

BACA JUGA:   Ustadz Abdul Somad Akan Menikah Lagi, Calon Istri Berusia 19 Tahun, Intip Paras Cantiknya!

Ketika pertama masuk, aku mendengar kabar bahwa di kamar tiga puluh dua, pernah ada seorang perempuan yang meninggal.

Aku tak terlalu gamang karena kematian adalah hal yang wajar. Yang membuatku sedikit ngeri adalah caranya menjemput ajal: dihipnotis lalu diperkosa oleh beberapa orang kemudian dibunuh.

Jasadnya tak pernah ditemukan. Orang-orang tahu karena ia sempat jadi berita di televisi. Kala itu juga, aku masih memiliki tetangga di pinggir kananku.

Seorang lelaki. Aku sempat bertukar hai, tapi belum sempat berkenalan. Seminggu kemudian, ia melompat dari jendela kamarnya. Setelah itu, aku resmi sendirian.

Maka, ketika perempuan itu jadi tetanggaku, aku berpikir dia bisa menghilangkan suasana hening yang kadang membuat bulu kuduk berdiri. Atau minimalnya, membuatku punya teman. Aku berniat menyapa pada hari kedua kedatangannya.

Namun, pagi-pagi sekali, bahkan sebelum kicau burung hadir, gadis tersebut telah lenyap. Waktu itu, aku masih melek karena bergadang demi mengkritik ‘keinginan untuk hidup’-nya seorang filsuf bernama Schopenhauer.

Lalu kudengar suara sepatunya merebak menjauhi kamar dan turun tangga. Aku mengamati dari jendela kamarku yang dipenuhi stiker-stiker kampus dan pergerakan. Dia memakai kaos hitam dibalut kardigan putih dan celana jin. Dari penampilannya yang sekelebat itu, aku merasa tak asing.

BACA JUGA:   Billy Syahputra Beri Dukungan ke Ibu Amanda Manopo yang Berjuang Lawan COVID-19

Aku semakin semangat mengajaknya berkenalan, karena bayangan sekilasnya mengganggu kepalaku. Seolah ada aura akrab yang keluar darinya. Seolah ada serimba rahasia dari caranya berpakaian. Bahkan sesuatu yang terasa kultus hanya dari suara langkah kakinya. Mungkin aku memang mengenal dirinya.

Bisa saja dia teman sekampusku, atau teman masa laluku. Jadi pada hari itu, aku menunggunya pulang hanya untuk memastikan hal tersebut.

Aku menunggunya sambil sesekali mengerjakan skripsi, mendengarkan kucingnya mengeong, sesekali menatap bentangan jemuran yang tergantung di depan kamarku. Aku menunggunya sampai ketiduran.

Ketika terbangun tengah malam, aku mendengarnya berbicara. Suara itu tidak datang dari arah kamarnya. Namun, sebaliknya. Lampu sedang mati. Aku mencoba beberapa kali menyalakan saklar, tapi tak kunjung menyala. Dalam hawa kegelapan, aku mendengar dia terkekeh. Aku mencoba menguping pembicaraannya.

Aku bisa menerka suaranya, dan kurasakan nada yang lembut tapi serak di ujung kalimat itu begitu kukenal.

Namun nihil untuk kuingat suara siapa. Bunyi kucing yang begitu berisik membuatku lagi-lagi kurang bisa menerka apa yang tengah dia bicarakan.

Sejak saat itu, aku mengira dia memiliki halusinasi atau teman khayalan. Maka kuurungkan niatku mengenalnya lebih dekat. Aku lebih baik sendirian mengurusi syarat sarjana dibanding mencoba berkenalan orang aneh sepertinya.

***

Prasangkaku … (Baca Seterusnya)

 4,276 total views,  1 views today

Pages ( 1 of 4 ): 1 234Next »

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *