Kisah Inspiratif: Si Sulung yang Kubenci

Kisah Inspirasi: Si Sulung yang Ku Benci

Sejak hari itu hariku kelabu, tak ada semangatku lagi. Bahkan untuk sekedar mengisi perutku yang keroncongan aku enggan. Nisa setiap hari menemaniku, dia juga memasak untukku. Tapi hatiku tetap membatu, aku masih mendiaminya. Aku akan makan jika Nisa sudah pulang ke rumahnya, jika ia masih disini, walau dibujuk seperti apapun aku tak akan membuka mulut. Aku juga sering memarahinya dengan alasan sepele. Namun, bukan Nisa namanya jika tidak keras kepala. Keesokan harinya dia akan datang lagi, memasak buatku, membujuk aku supaya mau makan, meminta maaf padaku, terus seperti itu setiap hari seperti tidak ada pekerjaan lain.

“Nisa, sudah kamu telepon adik-adikmu? Kabari kalau Ibu dirawat supaya mereka kesini”. Perintahku kepada Nisa yang tengah sibuk memencet-mencet ponselnya. Aku memang sudah lama mengidap diabetes, dan kali ini kambuh karena diam-diam aku meminum segelas teh kemasan yang kubeli di warung tanpa sepengetahuan Nisa, setelah minum teh itu kurasakan kepalaku berat, duniaku berputar, tiba-tiba gelap, kemudian saat aku terbangun aku sudah berada di rumah sakit dengan selang di hidung juga di tanganku, tak lupa Nisa di sampingku.

BACA JUGA:   5 Alasan Kenapa Beli iPhone X itu Suatu Kesalahan

“Bu, besok kalau mau minum teh manis bilang Nisa ya, biar Nisa bikinin pake gula khusus diabet”. Ucapnya sambil terus sibuk dengan ponselnya. Aku menjawabnya dengan anggukan yang mungkin tak terlihat olehnya.

“Bu, ga ada yang diangkat, tapi Nisa sudah kirim pesan, semoga segera dibalas ya bu.”

“Coba sini ibu yang telepon!” Kurebut ponsel dari tangan Nisa, kutekan nomor keempat anakku satu persatu, tak ada jawaban, hanya suara operator yang kudengar.

Hari berganti hari, pagi berganti siang, sore berganti malam, hingga aku diperbolehkan pulang ke rumah oleh dokter, ke empat anakku tak ada yang datang.

“Bu ini semalam adik-adik balas pesan Nisa, Nida katanya ga bisa ke Jakarta karna anak-anaknya lagi ujian Bu, Nika juga berhalangan Bu katanya lagi ikut pelatih di Malang, terus aku sms istrinya kembar, katanya mereka lagi ada pendidikan Bu, baru pulang bulan depan, dan ga bisa terima telepon selain hari libur. Jangan sedih ya Bu, mereka doain Ibu ko, semoga ibu segera pulih”. Kuseka air mataku, ada emosi yang kuat bergejolak di hati.

“Terus kamu kenapa masih disini Nisa? ga ada kesibukan lain?” hardikku.

“Nisa di sini karna memang kewajiban Nisa ada disini Bu. Nisa meninggalkan kesibukan Nisa yang lain untuk merawat Ibu, Insya Allah Bang Khalif ridho karna dia yang suruh Nisa jaga Ibu, si kembar Wafa sama Wildan dijaga sama mertua Nisa di rumah, dari kemarin mereka nanyain terus kapan Nenek pulang?” ucap Nisa lembut sambil merangkul tubuh rentaku, aku merasa ada kehangatan yang selama ini belum pernah kurasa. “Ibu, maafin Nisa ya!” ucapnya lirih sambil menyeka air matanya.

BACA JUGA:   Nenek Prapto yang Terlantar Sebatang Kara Rindukan Anaknya yang Merantau ke Kalimantan

“Neneeek!” belum sempat kujawab maaf Nisa tiba-tiba cucuku si kembar Wafa dan Wildan beserta ayahnya Khalif datang menjemputku.

Di rumah sikapku terhadap Nisa tak banyak berubah. Sekarang aku mengikuti beberapa pengajian, agar aku tak terus-terusan meratapi kepergian suamiku. Biasanya saat aku pulang dari pengajian, rumahku sudah rapi, makanan sudah tersedia di meja, dan Nisa sudah pulang ke rumahnya. Tapi kali ini, saat aku memasuki pekarangan rumahku, kulihat sandal Nisa ada di depan pintu. Setelah kuucapkan salam, akupun masuk ke dalam dan menemukan Nisa yang berlari ke arahku, mencium tanganku dan mempersilahkan aku untuk segera makan.

“Tumben kamu masih disini Nisa? Apa ada kabar dari adik-adikmu?” tanyaku. Kulihat Nisa menggeleng sambil menundukkan kepalanya.

“Bu maafin Nisa.”

“Kamu ini Nisa, dari dulu selalu gigih minta maaf ke Ibu, tapi selalunya kamu ulangi lagi itu perbuatanmu!”

“Nissa dulu nakal banget  ….. (bersambung)

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *