Nissa rutin memberiku uang bulanan dengan jumlah yang menurutku lumayan banyak, tapi aku anggap itu sebagai sebuah sikap yang wajar bagi seorang anak. Tapi, uang dua ratus ribu yang diberikan anakku yang lain kepadaku bisa membuatku mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada mereka.
Aku senang Nida menjadi ASN, menetap di Yogyakarta dan bersuamikan seorang ASN pula. Aku bahagia melihat Nika, seorang ASN yang bersuamikan seorang manager sebuah perusahaan swasta. Dan aku bangga dengan kembarku yang dapat mewujudkan impiannya menjadi TNI, membela kedaulatan Negara Republik Indonesia. Nisa, entah bagaimana menghadirkan rasa bangga di hatiku atasnya, padahal dia sudah berjuang menjadi hafidzah dan Insya Allah akan memakaikan jubah dan mahkota kelak padaku di hari akhir.
“Berbaik hatilah pada Nisa Bu, dia anakmu juga. Apa salah Nisa sampai Ibu begitu membencinya? Kasihan Nisa, dia selalu berusaha menjadi yang terbaik buat Ibu! Jangan karna kenakalannya sewaktu kecil menjadikan benci selamanya, ingat Bu, sekarang dia sudah besar sudah dewasa!” entah kali keberapa suamiku menasehatiku seperti itu. Setali tiga uang dengan Ibuku, bahkan sebelum meninggalpun Ibu berpesan agar aku bisa menyayangi Nisa dengan setulus hati. Mengapa hanya Nisa?
“Apa yang Nisa lakukan sepertinya selalu salah dimatamu Bu, adillah Bu, kita ini orang tua, kita ini panutan, apa salah Nisa sampai kamu seperti ini?”
“Salah Nisa karna dia anak kesayanganmu Pak dan cucu kesayangan Ibuku! Tapi kesalahan terbesarnya saat ini karna dia bodoh Pak, dia bodoh sudah melepas pekerjaannya demi menuruti keinginan suaminya yang hanya seorang guru! Dia bodoh karna sudah membeli rumah di samping rumah kita, sadar Pak, dia bakal jadi benalu buat kita nantinya!” penuh emosi aku menjawab pertanyaan suamiku, saat aku mengetahui bahwa sekarang Nisa tinggal tepat di samping rumahku dan terlebih saat ini dia hanya seorang ibu rumah tangga. Suamiku hanya diam menatapku, seperti tak percaya akan apa yang barusan didengarnya dari mulutku.
“Ibu.. Nisa minta maaf, Nisa tidak ada maksud ingin menjadi benalu bagi Ibu. Nisa hanya ingin…” kalimatnya terhenti saat tiba-tiba “braak..” suamiku jatuh tak sadarkan diri. Ya, itu hari terakhir aku melihat suamiku di dunia. Tak henti aku menangis, tak henti aku menyalahkan Nisa. Karena gara-gara membahas soal dia, penyakit jantung suamiku kambuh hingga menyebabkan ia meninggalkanku selamanya.
“Percuma kamu capek-capek menghafal Quran Nisa, percuma kamu Ibu masukkan pesantren kalau ujung-ujungnya kamu yang menjadi sebab meninggalnya Bapakmu!” Nisa hanya menunduk sesenggukan, sesekali terdengar lirih dari mulutnya “Ibu maafkan Nisa.” Tapi aku tetap bergeming, aku tinggalkan Nisa untuk mengurus jenazah suamiku.
“Bu apa bisa segera kita mandikan Jenazahnya? Hari sudah semakin sore khawatir penguburannya kemalaman, lagian kasihan jenazahnya sudah sejak semalam disini, harus disegerakan”. Tanya Pak Junaedi marbot masjid tempat tinggalku. Mataku nanar menatap sekeliling, aku mencari Nida, Nika, dan jagoan kembarku keseluruh penjuru rumah, tapi tak kutemukan, yang kulihat hanya Nisa, suaminya, beserta kedua anaknya yang sedari tadi membacakan ayat suci Al-quran di samping jenazah suamiku. Akhirnya terpaksa jenazah suamiku dikebumikan tanpa kehadiran keempat anakku yang lain, mereka baru datang keesokan harinya. Hanya dua hari mereka menemaniku, setelah itu mereka kembali ke rumah masing-masing dengan kesibukannya masing-masing. Dan aku harus kembali menahan rindu hingga datangnya hari Raya Idul Fitri. Biasanya di hari itu mereka semua akan berkumpul bersamaku.
Sejak hari itu …. (bersambung ke hal berikutnya)
![]()