Kisah Inspiratif: Si Sulung yang Kubenci

Kisah Inspirasi: Si Sulung yang Ku Benci

“Nisa dulu nakal banget ya bu? Maafin Nisa ya Bu, oiya Ibu inget foto ini ga?” ucapnya seraya menghampiriku dan membuka album foto keluarga yang hampir aku lupakan keberadaannya. “Ini Ibu sama Bapak waktu muda ya, Ibu cantik ga kaya Nisa, hitam, pendek, gendut hehe” Nisa terus mengoceh hingga sampai pada satu buah foto, foto dirinya sedang mengenakan baju muslim buatanku.

“Ini bajunya masih Nisa simpen lo bu, buat Wafa kalau sudah besar, Nisa suka banget sama baju ini, hijau warna favorit Nisa” aku tersenyum mendengarnya, setelah itu wajahnya berubah menjadi murung, lama ia terdiam sebelum kembali melanjutkan kata-katanya.

“Nisa inget, ini hari pertama Nisa mengaji di masjid, tapi malah bikin ibu marah karena Nisa main di selokan air, maafin Nisa ya bu” kemudian ia mengambil sesuatu dari kantung gamisnya. Dan aku kaget bukan kepalang, itu cincin pernikahanku dengan suamiku yang telah lama hilang. “Nisa sebenarnya bukannya cari kecebong Bu awalnya, Nisa cari ini, kata Bapak cincin Ibu masuk keselokan, karena cincinnya udah ketemu, jadi Nisa sekalian cari kecebong, dan jadi bikin Ibu marah”. Lidahku kelu, tak ada sepatah katapun keluar dari bibirku.

BACA JUGA:   Tips Mencari pPasangan dan Mempertahankan Hubungan Agar Setia

“Ibu inget ga waktu Ibu mau pergi arisan, Nisa nangis teriak-teriak bikin Ibu marah, itu karna Nisa pengen Ibu di rumah sama Nisa, mumpung adik-adik semuanya lagi pergi ngaji. Nisa juga si yang salah Bu, Nisa ga tau cara bilang ke Ibu bagaimana, jadinya malah bikin Ibu marah terus, Nisa sadar bu, Nisa kecil itu menyebalkan, selalu bikin ibu marah. Tapi Nisa sangat berterima kasih sama Ibu karna masukin Nisa ke pesantren, Nisa belajar banyak disana, terutama tentang cara menghormati dan menyayangi Ibu, Insya Allah Nisa akan berusaha menjadi anak yang baik, Nisa akan merawat Ibu sampai kapanpun, Nisa akan selalu sayang sama Ibu walaupun Ibu membenci Nisa”. Tiba-tiba dada ini sakit, melihat air matanya mengalir, bahunya berguncang, wajahnya tertunduk.

Merah pipiku, seperti ada tamparan keras yang tengah mendarat di sana. Lemas tubuhku seolah ada batu besar yang baru lepas dan merontokkan semua tulangku. Aku turun dari kursi, merangkak menghampiri Nisa, memegang kakinya dan bersujud di sana “Nisa maafkan Ibu” Nisa terkejut, lalu dengan sigap memegang tanganku, menjauhkan kakinya dari aku. Aku tak peduli, aku tetap bersimpuh disana walau ia terus melarangku, air mataku tumpah ruah. “Nisa maafkan Ibu, selama ini Ibu salah, selama ini Ibu dzalim sama kamu, selama ini Ibu yang bodoh, kamu hanya ingin bersama Ibu tapi Ibu ga pernah sadar, kamu hanya anak kecil yang Ibu paksa menjadi dewasa, Ibu terlalu sibuk dengan adik-adikmu, Ibu.. Ibu.. Ibu hanya cemburu kepadamu sayang, karena bapakmu juga nenekmu sangat menyayangimu dibanding Ibu.”

BACA JUGA:   Hargailah Orang yang Peduli Padamu - Jangan Menyia-nyiakan Kepercayannya

“Iya Ibu, sudah.. sudah.. Nisa sama sekali tidak menganggap Ibu salah, Nisa hanya berusaha agar Ibu sayang sama Nisa, Ibu.. Nisa sangat sayang sama Ibu” Nisa memelukku, menangis sesenggukan dipelukanku, begitu juga dengan aku.

“Nisa.. Terima kasih sudah memberi banyak pelajaran buat Ibu, terima kasih sudah menjadi Hafidzah, itu hadiah terindah buat Ibu, mulai saat ini, di sisa usia Ibu, Ibu akan menyayangi Nisa dengan setulus hati Ibu, seperti pesan nenek dan bapakmu, Ibu janji.”

Saat itu hubunganku dan Nisa terus membaik, Nisa sangat telaten merawatku dan juga Ibu mertuanya. Nisa mengajakku mengunjungi adik-adiknya, dia bilang “Silaturahmi tidak selalu Ibu yang harus dikunjungi, mungkin adik-adik sibuk, sesekali boleh kan Ibu yang mengunjungi mereka?” dan aku sangat senang berkeliling mengunjungi anak-anakku. Bahkan Nisa dan suaminya memberangkatkanku dan Ibu mertuanya ke tanah suci.

Sulungku yang kubenci, kini malah sangat berbakti kepadaku, aku sangat bersyukur di hari tuaku masih ada anak yang membersamaiku. Aku sadar sebenarnya tidak ada anak yang nakal, sulungku hanya ingin perhatianku, namun ia sulit untuk mengungkapkannya, dan aku yang lambat menyadarinya. Di usianya yang masih sangat kecil dia harus berbagi kasih sayang dengan keempat adiknya. Sulungku yang dulu sangat kunanti, sulungku yang kupinta kehadirannya pada setiap doaku, dan ia yang menjadi guru pertama bagiku, mengajarkanku bagaimana menjadi Ibu. Terima kasih anak sulungku, maafkan Ibu yang tak sempurna.

BACA JUGA:   Faraway Eyes

(Marisa Hermiati)

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *